Kesehatan

Waduh! Kasus Kanker Anak di Semarang Terus Meningkat, Apa Penyebabnya?

×

Waduh! Kasus Kanker Anak di Semarang Terus Meningkat, Apa Penyebabnya?

Sebarkan artikel ini
hari kanker anak sedunia
Dokter spesialis anak, dr Bambang Sudarmanto, Sp A (K) MARS saat menjadi narasumber dalam Peringatan Hari Kanker Anak Sedinia di Queen City Mall, Sabtu, 8 Februari 2025. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Jumlah anak penderita kanker di Kota Semarang mengalami peningkatan tiap tahunnya.

Dokter spesialis anak, dr Bambang Sudarmanto, Sp A (K) MARS menyebut, kasus kanker pada anak yang paling banyak dialami adalah kanker leukemia, kanker otak dan kanker mata.

Dari tiga kasus itu, kanker otak menjadi kasus yang mengalami peningkatan paling tinggi di Kota Semarang.

“Di Semarang, sudah mulai banyak kanker otak. Gambaran ini sudah hampir sama dengan gambaran di dunia secara global di mana paling banyak leukemia lalu otak,” kata Bambang saat Peringatan Hari Kanker Anak Sedunia di Queen City Mall, Sabtu, 8 Februari 2025.

Bambang memaparkan, dari tiga jenis kanker itu, leukemia adalah yang paling banyak diderita oleh anak. Hampir 35 sampai 40 persen penderita kanker mengidap leukimia akut.

BACA JUGA: Solidaritas Anak Penderita Kanker, Puluhan Orang di Semarang Kompak Cukur Gundul

Adapun leukimia terbagi menjadi dua, yakni leukemia akut limpo glasrik dan leukemia akut niloglasrik.

“Dua jenis kanker itu memiliki karakter yang berbeda karena pengobatannya pun berbeda,” sambung Bambang.

Penyebab kanker pada anak

Lebih jauh, Bambang menyebut jika banyak kasus kanker pada anak terjadi karena pendeteksian kanker yang sering terlambat. Umumnya, orang tua atau keluarga anak penderita kanker cenderung denial atau menolak terlebih dahulu.

“Orang tua atau keluarga yang mendengar bahwa anaknya terkena kanker, secara psikologis yang terjadi menolak, ‘ah mosok to’ mereka denial dulu,” paparnya.

Setelah melalui masa yang cukup panjang, orang tua dan keluarga baru bisa menerima fakta dan berusaha mencari informasi terkait kanker.

“Saat mereka baru menerima kenyataan itu, proses berikutnya adalah saling komunikasi dengan dokter. Komunikasi antara keluarga menjadi penting dan saling percaya,” papar Bambang.

BACA JUGA: Ternyata ini 5 Bahaya Mengkonsumsi Anggur Muscat yang Mengandung Pestisida, Berisiko Kanker