Aji mencontohkan kondisi di SD Negeri Krapyak yang masih memiliki 18 kursi kosong setelah pelaksanaan SPMB SD gelombang kedua.
Menurutnya, guru tetap menjalankan tugas mengajar meski jumlah siswa dalam kelas tidak sesuai kapasitas maksimal.
“Guru tetap mengajar walaupun jumlah siswanya tidak penuh,” ujarnya.
Rencana Merger Sekolah
Terkait sekolah-sekolah yang setiap tahun mengalami kekurangan siswa, pihaknya juga belum berencana menerapkan kebijakan penggabungan atau merger sekolah. Salah satu pertimbangannya ialah pemerataan akses pendidikan di setiap wilayah.
“Kalau di satu kelurahan hanya ada satu SD negeri, meskipun jumlah siswanya sedikit, belum ada rencana merger. Kami mempertimbangkan agar akses pendidikan masyarakat tetap mudah,” katanya.
Aji menilai berkurangnya jumlah siswa di sejumlah SD negeri dipengaruhi beberapa faktor. Selain jumlah anak usia sekolah yang semakin sedikit di kawasan pusat kota, banyak orang tua kini memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal.
“Fenomenanya sekarang banyak keluarga muda tinggal di wilayah pinggiran karena harga tanah lebih terjangkau. Di kawasan tengah kota jumlah anak usia sekolah semakin sedikit, tambah sebagian orang tua memilih sekolah swasta yang lebih dekat,” pungkasnya. (*)





