Politik

Enam Calegnya Buat Surat Undur Diri Sebelum Pemilu, PDIP Jawa Tengah Jelaskan Mekanisme Komandante

×

Enam Calegnya Buat Surat Undur Diri Sebelum Pemilu, PDIP Jawa Tengah Jelaskan Mekanisme Komandante

Sebarkan artikel ini
Sumanto DPRD Jawa Tengah | Caleg mengundurkan diri | Anggota DPRD
Sekretaris DPD PDIP Jawa Tengah, Sumanto, saat ditemui di Gedung Berlian, Kota Semarang, Selasa, 4 Juni 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sekretaris DPD PDI Perjuangan (PDIP) Jawa Tengah, Sumanto, angkat bicara perihal 6 caleg DPRD Provinsi Jawa Tengah yang gagal dilantik lantaran mengundurkan diri.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah menyebut ada 6 caleg asal PDIP yang mengundurkan diri dari kursi DPRD Provinsi. Namun, KPU Jawa Tengah belum dapat memberikan nama dan keterangan lebih lanjut perihal itu.

Sumanto membenarkan, alasan mundurnya keenam caleg PDIP itu ialah pembagian wilayah tempur. Menurutnya, pembagian wilayah tempur itu pun telah jadi kesepakatan sejak lama.

“Sistem ini hanya untuk internal kami di Jawa Tengah, kecuali Solo dan Boyolali. Itu Peraturan Partai Nomor 1 Tahun 2023, sama seperti yang disampaikan Bu Agustina. Solo dan Boyolali pengecualian, karena sudah di atas 50 persen,” ujar Sumanto saat beritajateng.tv temui di Gedung Berlian, Selasa, 4 Juni 2024 sore.

Sumanto yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah itu pun memastikan keenam caleg itu akan mengundurkan diri. Sebab, tutur Sumanto, seluruh caleg PDIP di Jawa Tengah telah mengetahui adanya aturan main tersebut.

“Sebelum mereka bertempur kan ada aturan main itu namanya. Mereka membuat surat pengunduran diri, nanti kalau terjadi permasalahn bisa diselesaikan dengan kemenangan di wilayah itu,” bebernya.

Terlebih, kata Sumanto, caleg bersangkutan telah membuat surat pengunduran diri jauh sebelum Pemilu berlangsung. Ia pun mengaku pihaknya ikut membuat surat pengunduran diri sebelum berlaga di hari H pemungutan suara.

“Surat pengunduran sudah [buat] sebelum Pemilu, jauh hari. Setelah SK itu turun, kita buat [surat pengunduran diri]. Saya juga buat,” akunya.

BACA JUGA: KPU Semarang Putuskan 1 Saja Penggantian Caleg Terpilih, Kader PDIP Undur Diri oleh Sistem Komandante

6 caleg PDIP mengundurkan diri, Sumanto beberkan sekilas sistem Komandante

Lebih lanjut, Sumanto memberikan sedikit penjelasan soal sistem komandante yang PDIP anut dalam Pileg di Jawa Tengah. Menurutnya, sistem komandate tak merubah hakikat pemungutan suara dalam Pemilu. Hanya saja, lanjutnya, sistem komandate tercipta untuk mengurangi gesekan antaranggota PDIP.

“Jadi kamu dan saya, misalnya. Ini kan di wilayah sak (satu) dapil. Kabupaten itu ada beberapa kecamatan dan desa, disepakati gitu saja. Mereka melakukan kampanye di situ saja [di daerah yang sudah jadi kesepakatan],” tegasnya.

Perihal perhitungan suara, Sumanto menyebut ada empat jenis suara yang dianggap sah milik caleg di wilayah termpur yang sudah ditentukan.

“Ada empat, suara mereka sendiri alias by name, suara parpol sendiri, suara orang lain yang nyoblos (dicoblos) itu atau caleg yang menjadi kuota kursi. Itu suara jadi milik mereka, sudah ada SK,” jelasnya.

Sehingga, jika ada caleg yang memperoleh suara bukan dari ketentuan wilayah tempur, maka suara itu akan masuk ke caleg yang memiliki wilayah tempur.

BACA JUGA: Respons Protes Caleg yang Gugat ke KPU, PDIP Jateng: Mereka Semua Sudah Tahu Sistem Komandante

PDIP sebut sistem komandante gotong royong, cegah ‘jeruk makan jeruk’ di internal partai

Lebih lanjut, Sumanto mengungkap partai telah memberikan penugasan kepada enam caleg yang harus mengundurkan diri dari kursi DPRD Provinsi terpilih. Ia pun menyinggung sistem komandate itu mampu mencegah ‘jeruk makan jeruk’ dalam sistem Pemilu Terbuka.

“Ini sudah ada [penugasan], di dalam peraturan partai sudah ada, intinya [sistem komandante] gotong royong itu. Supaya tidak terjadi [perpecahan]. Yang namanya Pemilu Terbuka itu kan jeruk makan jeruk, kami menghindari itu,” tegasnya.

Terkait kritik akademisi perihal sistem komandante PDIP, Sumanto angkat bicara. Tak sedikit akademisi yang menilai sistem komandante PDIP di Jawa Tengah rawan terjadi ‘deal-deal’ di internal partai.

“Oh tidak bisa, malah ini fair. Ini cara menghitungnya saja, kan dalam satu Dapil (kabupaten) ada beberapa kecamatan. Kemudian ada beberapa desa. Kalau dulu mereka bertemu dalam satu kecamatan ini dibatesi saja, tidak ada rekayasa ini, hanya cara perhitungannya saja,” jelasnya.

Sumanto pun menegaskan bahwa seluruh perhitungan suara dalam sistem komandate ini sifatnya transparan.

“Perhitungan internal itu transparan,” ungkapnya.

Saat menanggapi perihal keenam caleg itu, Sumanto menyebutkan beberapa nama, di antaranya Eko Susilo (Dapil 8), Ahmad Ridwan (Dapil 13), dan Dyah Kartika Permanasari (Dapil 2).

“Mas Eko, Mas Ridwan, Mbak Intan, Mbak Dyah, Mbak Tika, dan yang lain, saya lupa namanya,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp