Jateng

729 RW di Kota Semarang Sudah Terjangkau Gerakan Pangan Murah (GPM)

×

729 RW di Kota Semarang Sudah Terjangkau Gerakan Pangan Murah (GPM)

Sebarkan artikel ini
729 RW di Kota Semarang Sudah Terjangkau Gerakan Pangan Murah (GPM)
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menghadiri Gerakan Pangan Murah (GPM) di Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti ingin Gerakan Pangan Murah (GPM) tidak hanya hadir saat harga kebutuhan pokok mulai naik.

Ia mendorong program Kempling Semar hingga tingkat RW dan berlangsung lebih sering agar warga bisa mendapatkan pangan terjangkau tanpa harus pergi jauh.

Dorongan itu Agustina sampaikan saat mengikuti Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak melalui Kempling Semar di Banyumanik, Semarang, Senin (31/8/2026).

Kegiatan tersebut sekaligus menutup rangkaian GPM tingkat RW yang berlangsung sepanjang Agustus.

Agustina menilai keberlanjutan menjadi kunci agar program pangan murah benar-benar memberi dampak. Karena itu, ia meminta pelaksana tidak menjadikan GPM sebagai kegiatan sesaat.

“Harapannya kegiatan pangan murah ini tidak berhenti pada hari ini saja, tetapi tetap berlanjut dan konsisten sepanjang tahun,” kata Agustina.

Saat berdialog secara daring dengan 16 kecamatan, Agustina mendapat gambaran langsung mengenai kebutuhan warga. Beras dan telur menjadi dua komoditas yang paling cepat habis dalam pelaksanaan GPM.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bagi pemerintah kota untuk menyesuaikan jumlah pasokan. Pemerintah juga membuka peluang meningkatkan frekuensi pelaksanaan agar kebutuhan warga bisa lebih cepat di respons.

BACA JUGA: Jaga Harga Stabil, BI Jawa Tengah Siapkan 227 Titik GPM di 35 Kabupaten/Kota 

“Jika memungkinkan, frekuensinya bisa meningkat, paling tidak sepekan sekali. Semakin sering terlaksana, tentu manfaatnya akan semakin terasa bagi masyarakat,” ujarnya.

Kempling Semar selama ini bergerak secara bergiliran dari satu kampung ke kampung lainnya. Pemerintah kota menggandeng distributor pangan dan pengurus wilayah untuk membawa bahan kebutuhan pokok lebih dekat ke permukiman warga.

Pola tersebut membuat GPM tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan pangan dengan harga terjangkau.

Program ini juga menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga pasokan sekaligus membantu masyarakat menghadapi tekanan harga kebutuhan pokok.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, GPM di Kota Semarang telah berlangsung di 1.085 titik. Nilai omzet dari seluruh pelaksanaan tersebut mencapai Rp5,013 miliar.