Pendidikan

Pemprov Jateng Ingin Terapkan Enam Hari Sekolah, Pengamat: Sabtu-Minggu Waktu Luang Murid-Guru

×

Pemprov Jateng Ingin Terapkan Enam Hari Sekolah, Pengamat: Sabtu-Minggu Waktu Luang Murid-Guru

Sebarkan artikel ini
Anak Tak
Pengamat pendidikan asal Unnes, Edi Subhkan, saat dijumpai di kantornya, Kamis, 24 Oktober 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Wacana perubahan dari lima hari menjadi enam hari sekolah bagi pelajar SMA/SMK di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah masih menimbulkan perdebatan, meskipun belum resmi diterapkan.

Pengamat pendidikan asal Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subhkan, meminta Pemprov Jawa Tengah untuk melihat skema sekolah lima hari maupun enam hari secara komprehensif. Hal itu Edi ungkap saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp, Minggu, 30 November 2025.

“Orang belajar di sekolah sebenarnya bukan semata-mata soal jadwal mata pelajaran, tapi terkait dengan banyak hal lain di sekolah dan luar sekolah. Perlu pegang prinsip dalam mengeluarkan kebijakan pendidikan, salah satu yang penting adalah jangan sampai kebijakan tersebut merugikan guru dan siswa,” tegas Edi.

Sebelum mengganti kebijakan menjadi sekolah enam hari, Edi meminta Pemprov Jawa Tengah mengkaji apakah selama ini pelaksanaan sekolah lima hari berimbas baik atau sebaliknya bagi siswa di tingkat SMA/SMK.

BACA JUGA: PGRI Jateng Tolak Enam Hari Sekolah: Guru Punya Hak Libur untuk Kumpul Keluarga di Hari Sabtu

“Di sinilah perlu kaji terlebih dulu, selama ini dengan sekolah lima hari bagaimana kualitas belajar siswa di sekolah; apakah mampu memberikan waktu bagi siswa untuk mengembangkan diri secara optimal, bagaimana pula dampaknya terhadap kehidupan sosial siswa tersebut di lingkungan keluarganya,” sambungnya.

Edi menilai setiap perubahan kebijakan pendidikan harus berbasis data. Ia menegaskan bahwa Pemprov Jawa Tengah perlu menunjukkan terlebih dulu bagaimana pelaksanaan sekolah lima hari selama ini berdampak pada kualitas pembelajaran siswa dan kesejahteraan guru. Tanpa data itu, menurutnya, argumen untuk kembali ke sekolah enam hari menjadi lemah.

“Sampai di sini, Pemprov Jateng kalau mau mengubah kebijakan harusnya menyajikan data, terutama terkait kualitas pembelajaran dan dampaknya pada guru dan siswa. Kalau tidak ada, maka kurang kuat argumentasinya,” kata Edi.

Edi kritik alasan enam hari sekolah karena siswa tak ada yang mengawasi saat hari Sabtu: Itu tanggung jawab keluarga

Salah satu alasan yang mencuat soal pemberlakuan sekolah enam hari ialah kekhawatiran anak-anak yang terlalu longgar tanpa pengawasan di hari Sabtu.

Menurut Edi, alasan itu tidak cukup untuk menjadi basis perubahan kebijakan yang berdampak luas. Ia menilai akhir pekan justru penting bagi siswa untuk membangun kedekatan dengan keluarga dan ruang pengembangan diri di luar sekolah.

“Kalau argumentasinya hanya terkait waktu yang terlalu longgar di akhir pekan, menurut saya kurang kuat. Karena Sabtu dan Minggu memang sebaiknya jadi waktu longgar bagi anak-anak untuk membangun kelekatan dengan keluarga atau ikut kegiatan remaja, klub olahraga, komunitas budaya, dan lainnya,” ujar dia.

Guru, lanjut Edi, juga memerlukan akhir pekan untuk meningkatkan kompetensi tanpa harus mengorbankan waktu bersama keluarga. Jika libur hanya sehari, banyak guru terpaksa memindahkan kegiatan peningkatan kompetensi ke malam hari usai mengajar.

BACA JUGA: Matangkan Rencana Enam Hari Sekolah, Dinas Pendidikan Jateng Siapkan Skema Rotasi Guru SMA/SMK Dekat Domisili

“Guru di akhir pekan juga punya waktu untuk sedikit-sedikit upgrade pengetahuan. Kalau liburnya cuma hari Minggu, sementara jam pulang mengajar sore, biasanya guru akan pakai waktu malam untuk upgrade kompetensi. Ada waktu yang sedianya buat keluarga, jadinya terganggu,” jelasnya.

Simak berbagai berita dan artikel pilihan lainnya lewat WhatsApp Channel beritajateng.tv dengan klik tombol berikut:
Gabung ke Saluran

Tinggalkan Balasan