“Mengapa di media sosial tampak, misalkan di mobil, di motor ada debu-debu? Karena memang kondisi kita saat ini dalam kondisi musim kemarau,” katanya.
Goeroeh menyebut dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, sebanyak 24 daerah telah berada pada tingkat kekeringan meteorologis awas.
Status kekeringan meteorologis tersebut terbagi menjadi waspada, siaga, dan awas. Kondisi awas menunjukkan suatu wilayah telah mengalami lebih dari dua bulan atau 61 hari tanpa hujan.
“Jadi di 24 kabupaten/kota berarti kurang lebih 65 persen, ya, lebih. Artinya, keringnya ini, munculnya debu-debu ini karena dari faktor kekeringan tadi,” tandas Goeroeh.
BACA JUGA: Anak Krakatau Erupsi, 29 Penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang Batal, 3.420 Penumpang Terdampak
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengatakan BMKG memiliki sejumlah rujukan untuk memantau sebaran abu vulkanik.
Salah satunya yakni Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, lembaga yang menjadi rujukan informasi sebaran abu vulkanik untuk wilayah kerja yang mencakup Asia, sebagian Asia Tenggara, Filipina Selatan, Indonesia, hingga Australia.
“Data yang kami ambil adalah dari VAAC Darwin. Jadi VAAC itu Volcanic Ash Advisory Center. Itu adalah lembaga yang berwenang untuk menyiarkan atau mengabarkan informasi sebaran debu vulkanik di area sekitar,” tutur Yoga.
Selain VAAC Darwin, BMKG juga menggunakan citra satelit Himawari sebagai rujukan pemantauan. Yoga menjelaskan, berdasarkan analisis pada Minggu, 6 September 2026, terdapat pergerakan angin berbeda pada lapisan atmosfer. Pada lapisan udara atas, angin bergerak dari barat ke timur, sementara hingga lapisan sekitar 1.500 meter, angin bergerak dari timur ke barat.
“Jadi kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik ԁiperkirakan sampai ke daerah Jawa Tengah, tapi lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya adalah anginnya ke arah dari timur ke barat,” terang Yoga.





