Terkait hal ini, masih jelas Taufiq, juga juga harus membutuhkan dukungan, baik sumber pendanaannya (APBD), dukungan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dll.
Namun, pihaknya akan terus berupaya memperkuat kapasitas para pengajar/guru di Kabupaten Semarang. “Tentunya untuk mencari solusi atas persoalan yang masih peserta didik hadapi,” tegasnya.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, juga mengakui dunia pendidikan di Kabupaten Semarang hari ini sedang menghadapi problem keterbatasan jumlah SDM pengajar seiring banyaknya guru yang pensiun.
BACA JUGA: SDN Gemah Semarang Hadirkan Inovasi Kamis Literasi dan Educaplay: Baca Buku-Belajar Interaktif
Sehingga, dalam proses belajar mengajar di sekolah ada guru yang merangkap beberapa mapel, ada kepala sekolah yang merangkap mengajar, sehingga menjadi tidak efektif.
“Di lapangan ada guru olahraga merangkap guru mapel yang berbeda rumpun pendidikannya. Kemudian guru bahasa Inggris yang mestinya ekstra kulikuler merangkap guru kelas,” tuturnya.
Yang menjadi persoalan, kekurangan SDM guru ini sudah dialami di sekolah dasar (SD). Padahal pendidikan di tingkat dasar akan menentukan siswa untuk bisa naik ke jenjang pendidikan berikutnya (menengah).
“Kalau siswa dari dasarnya saja sudah bermasalah, maka di jenjang menengahnya pasti juga akan menghadapi masalah,” kata Joko Sriyono. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





