Selain itu, Ady menyoroti masih tingginya tingkat kebocoran air atau Non-Revenue Water yang mencapai sekitar 42 persen.
Ia menyebut, penanganan kebocoran akan pihaknya lakukan melalui pendekatan administratif dan teknis secara bersamaan.
“Dari sisi administrasi dan komersial, kami akan menertibkan sambungan ilegal, membenahi sistem pembacaan meter, dan memastikan konsumsi tercatat secara proporsional. Secara teknis, kami akan membangun district meter area di zona-zona rawan,” ungkapnya.
Wilayah Semarang Utara menjadi perhatian khusus karena menjadi penyumbang terbesar kebocoran air.
PDAM Tirta Moedal juga membuka peluang modernisasi teknologi melalui kerja sama dengan lembaga donor. Termasuk konsultan domestik dan internasional, serta penggantian pipa-pipa lama yang sudah melewati usia pakai.
Dalam hal ekspansi pelanggan, Ady menargetkan peningkatan jumlah sambungan rumah secara bertahap. Saat ini, jumlah pelanggan tercatat sekitar 203 ribu sambungan.
“Kami menargetkan penambahan sekitar 10 ribu pelanggan setiap tahun. Harapannya, di akhir masa jabatan jumlah pelanggan bisa mencapai 250 ribu,” katanya.
Harapan untuk Direksi Baru
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, berharap jajaran direksi baru mampu membawa peningkatan signifikan dalam pelayanan air bersih bagi masyarakat.
“Harapan saya sederhana, pelayanannya harus lebih baik. Tantangan ke depan cukup besar, mulai dari optimalisasi SPAM Semarang Barat hingga rencana pengembangan SPAM Semarang Timur,” ujar Agustina.
Agustina juga menyinggung peran PDAM dalam proyek pembangunan jaringan air limbah domestik yang mendapat dukungan Asian Development Bank.

Menurutnya, tanggung jawab PDAM kini tidak hanya terbatas pada air minum, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan secara menyeluruh.
“Ini tantangan besar karena ada dua tugas utama yang harus berjalan bersamaan. Keduanya membutuhkan konsentrasi dan manajemen yang kuat,” katanya.





