SEMARANG, beritajateng.tv – Mencintai dan peduli terhadap diri sendiri (self-love) bagi sebagian perempuan mungkin bukan hal yang mudah. Apalagi, adanya stigma-stigma yang muncul di tengah masyarakat menjadikan perempuan menjadi lebih sulit menerima diri sendiri.
Yoana Theolia Angie Yessica, psikolog klinis sekaligus founder Hope Psychology Center (HPC) mengutarakan, banyaknya tuntutan dari lingkungan seringkali membuat seseorang tidak memiliki sifat self-love. Padahal, setiap manusia yang terlahir di dunia sudah lebih dari berharga dari apapun.
“Mungkin lingkungan menberikan kesan-kesan yang kurang tepat, misal kalau lebih pinter akan lebih berharga, lebih cantik akan lebih berharga, padahal sebetulnya setiap kita itu udah lebih dari cukup,” katanya dalam sesi talkshow bertempat di Atrium The Park Mall Semarang, Jumat 24 November 2023.
Ia juga menyinggung banyaknya perempuan yang berjuang membangun kembali kepercayaan dirinya. Tak jarang, kepercayaan diri atau self esteem berkurang karena adanya trauma di masa lalu.
Bahkan, Yessi tak menampik jika seorang psikolog pun memiliki perjuangannya dalam self-love.
BACA JUGA: Hari Ayah Nasional, Psikolog Ingatkan Peran Penting Ayah dalam Pola Asuh Keluarga
“Setiap orang pasti punya insecuritynya sendiri-sendiri, even psikolog juga bisa insecure. Yang penting, kita cukup berharga tanpa syarat apapun,” tegasnya.
Namun demikian, Yessi memahami jika tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Ia pun menyarankan tiap individu untuk memahami batasan dan jika dirasa sudah tidak kuat, bisa mencari pertolongan profesional.
“Jangan push the limits, kalau memang tidak kuat silakan cari bantuan. Mencari bantuan profesional itu nggak apa-apa banget,” tandasnya.
Self-love: Menerima emosi yang muncul
Sementara itu, Flavia Sungkit, seorang penyintas kanker yang juga menjadi narasumber dalam talkshow tersebut mengatakan, setiap perempuan tidak perlu berusaha untuk menjadi sempurna. Bahkan menurutnya, mustahil untuk seorang manusia bisa menjadi sempurna.
Oleh karena itu, hal yang wajar jika lantas kemudian merasakan emosi negatif.
“Sometimes merasa down, secara fisik diet kok nggak kurus-kurus, atau misal yang punya bisnis kok udah ngelakuin marketing tapi sales nggak naik-naik padahal effort, banyak hal tidak sesuai keaadaan, terima aja dulu emosinya, kecewanya, sedihnya,” ungkapnya.
Yang terpenting, lanjut Flavia, setelah itu adalah bagaimana kita dapat bangkit, bagaimana kita dapat melihat harapan di masa depan.
“Kecantikan akan terpancar dari dalam diri kita jika bisa bisa mengelola energi diri kita,” tutupnya.(*)
Editor: Farah Nazila





