SEMARANG, beritajateng.tv – Pakuwon Group punya alasan khusus memilih kawasan Gombel Lama, Kota Semarang, sebagai lokasi pengembangan pusat komersial baru superblock dengan nilai investasi sekitar Rp9 triliun.
Bagi pengembang, Gombel tidak hanya menawarkan lokasi yang strategis. Kawasan ini memiliki kombinasi pemandangan laut dan suasana pegunungan yang menjadi daya tarik utama proyek mal tersebut.
Konsep itu pula yang membuat Pakuwon tidak melihat kondisi geografis Gombel sebagai sekadar tantangan. Kawasan yang dikenal memiliki karakter tanah bergerak justru memiliki potensi untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Senior Project Manager Pakuwon Group, Paulus Louw, mengatakan Semarang memiliki karakter kota yang unik.
Kondisi geografis tersebut dapat menjadi keunggulan untuk membangun pusat perbelanjaan dengan konsep lifestyle.
“Kenapa Gombel kita pilih? Gombel ini ada perpaduan antara laut dan pegunungan. Mal yang kita bangun nantinya akan memiliki view ke laut, tetapi di saat yang sama pengunjung juga bisa menikmati kesejukan udara pegunungan,” kata Paulus.
Menurutnya, konsep tersebut terinspirasi dari sejumlah pusat perbelanjaan ikonik di Asia yang tidak hanya mengandalkan ruang dalam gedung. Kawasan luar mal juga di buat hidup dan menjadi bagian dari pengalaman pengunjung.
Paulus mencontohkan Marina Bay Sands di Singapura dan Iconsiam di Bangkok. Kedua pusat komersial tersebut menawarkan pengalaman berbelanja sekaligus menikmati lingkungan di sekitarnya.
“Kalau kita lihat mal-mal di Indonesia maupun di Asia, ada konsep lifestyle yang membuat area outdoor juga hidup. Pengunjung bisa menikmati lingkungan sekitar, tidak hanya masuk ke dalam mal,” ujarnya.
Konsep serupa ingin Pakuwon hadirkan ke Semarang. Bedanya, Gombel memiliki karakter alam yang lebih lengkap karena berada di kawasan perbukitan dengan panorama Kota Semarang dan laut.
BACA JUGA: Dewan Pertanyakan Rencana Efisiensi Pemkot Semarang, Herlambang: PAD Cuma 88 Persen, Salah Siapa?
“Semarang tidak kalah dengan mal-mal ikonik di luar negeri. Banyak yang bisa ditawarkan dari Gombel,” kata Paulus.
Selain panorama, Pakuwon juga melihat potensi kuliner Semarang sebagai bagian dari konsep pengembangan. Kekayaan kuliner lokal bisa menjadi salah satu daya tarik yang dikembangkan di pusat komersial tersebut.
“Semarang bukan hanya indah alamnya. Kuliner Semarang juga sangat terkenal. Hal-hal itu yang akan kami gali lebih dalam untuk mal nantinya,” jelasnya.
Tantangan Tanah Gerak
Pemilihan Gombel bukan berarti tanpa risiko. Lokasi proyek berada di kawasan yang memiliki karakter tanah bergerak sehingga aspek keamanan lahan menjadi perhatian utama pengembang.
Saat ini proyek belum memasuki pembangunan fisik gedung mal. Pakuwon masih fokus pada tahap pematangan dan pengamanan lahan.
Paulus mengatakan pengembang telah melakukan berbagai kajian teknis untuk memastikan kondisi lahan siap digunakan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun struktur penahan tanah atau soldier pile.
Struktur tersebut berfungsi memperkuat lereng dan menjaga kestabilan tanah di sekitar lokasi proyek. Pembangunannya juga memiliki manfaat lebih luas karena sebagian struktur ikut melindungi Jalan Gombel Lama.
“Kami memang bersinergi dengan P2JN. P2JN juga memiliki pekerjaan untuk mengamankan dan memperbaiki Jalan Gombel Lama. Soldier pile yang kami bangun juga ada yang menahan jalan tersebut,” katanya.
Menurut Paulus, struktur penahan tanah yang dibangun tidak hanya memberikan perlindungan terhadap kawasan proyek. Infrastruktur tersebut juga diharapkan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Selain melindungi area kami, soldier pile yang terpasang nantinya juga akan melindungi area warga sekitar,” ujarnya.
Karena itu, tahap pematangan lahan menjadi bagian penting sebelum pembangunan gedung dimulai. Pakuwon ingin memastikan aspek keamanan menjadi fondasi utama proyek bernilai investasi besar tersebut.
Target Beroperasi 2030
Pakuwon menargetkan pusat komersial di Gombel mulai beroperasi sekitar 2030 hingga 2031. Namun, target tersebut tetap bergantung pada proses pematangan lahan dan tahapan pembangunan berikutnya.
Paulus mengatakan pengembang optimistis proyek dapat berjalan sesuai rencana. Dukungan pemerintah daerah dan berbagai pihak juga menjadi faktor penting dalam kelancaran pembangunan.
“Kami optimistis targetnya 2030-2031. Semua tergantung pematangan lahan. Mudah-mudahan berjalan lancar dan bisa opening paling lambat 2030,” katanya.
Pakuwon juga tidak menganggap kehadiran pusat perbelanjaan baru sebagai ancaman bagi bisnis yang sudah ada di Semarang. Persaingan justru dapat mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitas.
“Pakuwon tidak pernah takut bersaing. Dengan adanya persaingan, kita justru semakin maju dan bisa mengoreksi diri kalau ada kekurangan,” tegas Paulus. (*)





