“Kadang berita itu dari kecil jadi besar. Itu yang harus disadari,” imbuhnya.
Waspadai Efek Echo Chamber
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi kecemasan jika seseorang terus-menerus terpapar konten serupa, misalnya karena algoritma media sosial.
Jika setiap membuka ponsel selalu muncul berita yang sama, persepsi ancaman bisa terasa lebih besar dari kenyataan.
“Kalau sudah begitu, penting untuk menyaring dan tidak mengonsumsi informasi secara berlebihan,” ujarnya.
Bagi anak muda yang mulai merasakan kecemasan berlebih akibat paparan berita, Probowatie menyarankan untuk tidak memendamnya sendiri.
“Kalau merasa takut, jangan pendam. Ajak ngobrol teman, sharing. Itu bisa membantu meredam,” katanya.
Ia menegaskan bahwa rasa cemas merupakan hal yang wajar, selama masih dalam batas normal dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Cemas itu pasti ada. Tapi jangan sampai tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Itu yang harus diwaspadai,” ujarnya.
Lebih Berbahaya Konten Negatif Lain
Dalam pandangannya, daripada isu perang global, justru konten negatif seperti pornografi ternilai lebih berdampak langsung terhadap perilaku anak muda.
“Kalau menurut saya yang lebih bahaya itu justru pornografi, karena itu banyak mempengaruhi perilaku,” ungkap Probowatie.
BACA JUGA: Apa Hubungannya Perang Dunia III dengan Dukhan? Begini Penjelasan Nabi Muhammad SAW
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat sisi negatif dari paparan informasi digital, tetapi juga memanfaatkannya sebagai sarana belajar dan memperluas wawasan.
“Jangan dilihat dari sisi negatif saja. Itu juga bisa jadi pengetahuan, asal kita bisa menyaring dan mendiskusikannya dengan baik,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





