Ia mencontohkan kampanye digital yang Narasi TV usung, seperti “Indonesia Darurat” dan “17+8” lewat fitur add yours di Instagram Story. Tren tersebut, menurutnya, bukan sekadar konten viral, melainkan upaya mengajak audiens ikut menyuarakan isu penting dengan cara yang dekat dengan keseharian pengguna media sosial.
“Secara politik memang kita tidak boleh berpihak ke satu sisi. Tapi saya percaya kita harus berpihak pada kepentingan publik. Itulah yang membuat media bisa tetap berada di tengah,” ujar Laban.
BACA JUGA: Representasi Perempuan dalam Politik Minim, Jurnalis Asal India Dorong Jurnalisme Peka Gender
Keberpihakan itu, lanjutnya, tak jarang membuat Narasi TV menjadi sasaran serangan digital.
“Bukan tidak mungkin, karena kita berpihak pada publik, kita justru dapat serangan. Narasi bahkan pernah International Federation of Journalists catat sebagai media dengan kasus serangan digital terbesar di dunia,” ungkapnya.
Kendati begitu, ia menilai harus menghadapi risiko itu sebagai bagian dari pekerjaan jurnalis.
“Kampanye atau serangan digital adalah hal yang wajar. Itu konsekuensi karena kita membela kepentingan publik. Risiko perlu kita mitigasi, tapi tidak perlu kita takuti,” pungkas Laban. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





