SEMARANG, beritajateng.tv – Representasi perempuan dalam politik tak bisa dilihat semata dari kuota 30 persen yang menjadi syarat bagi sebuah partai berlaga dalam Pemilu. Lebih jauh, bagaimana isu perempuan diberitakan juga turut menentukan sejauh mana suara mereka mendapat tempat di ruang publik.
Pesan itu disampaikan Amy Sood, jurnalis Financial Times Ignites Asia, dalam sesi Voices of Tomorrow: Where Young Journalists Meet Editorial Wisdom yang digelar daring pada Sabtu, 6 September 2025 lalu.
Mengambil tema gender reporting, Amy menekankan pemberitaan yang peka terhadap gender merupakan pintu masuk untuk menghadirkan narasi yang lebih inklusif.
“Kami ingin bisa memperkuat suara-suara yang terpinggirkan lewat penceritaan kami, lewat liputan kami. Kami ingin memastikan bahwa perempuan dan individu gender beragam terwakili dalam media dan ruang pengambilan keputusan,” ungkap Amy.
Ia menyebut, media memiliki kekuatan dalam membentuk wacana publik perihal peran gender dan hak asasi manusia (HAM).
“Liputan kita bisa memengaruhi bagaimana masyarakat melihat peran gender, bagaimana melihat isu-isu HAM. Sebab membawa persoalan ini ke permukaan juga memaksa para pembuat kebijakan untuk memperhatikan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Amy mencontohkan pengalamannya saat meliput Pemilu Malaysia tahun 2022 untuk South China Morning Post. Saat itu, sejumlah partai politik menyatakan komitmen untuk mengusung 30 persen kandidat perempuan. Namun kenyataannya, hanya sekitar 13,5 persen dari lebih dari 1.300 kandidat yang perempuan.
“Itu adalah cerita tentang representasi perempuan di politik. Kami melihat, meskipun perempuan adalah lebih dari separuh pemilih terdaftar di negara tersebut, mereka hanya menyumbang kurang dari 15 persen kandidat dan kemudian juga anggota parlemen,” ucap Amy.
Kondisi itu, menurut Amy, menunjukkan bagaimana perempuan sering kali hadir dalam jumlah besar sebagai pemilih, tetapi terpinggirkan dalam posisi pengambil kebijakan.





