Dalam buku Animal Farm, Orwell tampaknya menyinggung hubungan timbal balik antar manusia. Yakni hubungan yang saling memengaruhi dan berbalas, melalui penggambaran karakter Pak Jones dengan hewan ternaknya.
Pak Jones, rela mengorbankan tenaga dan waktunya untuk memberi makan hewannya dan menjaga mereka bukan semata-mata karena ia mengabdikan hidupnya untuk memastikan kesejahteraan hewan tersebut, tetapi untuk bertahan hidup. Karena dari pekerjaannya itu, ia dapat menghasilkan uang dan hidup.
Katakanlah, kita memiliki hubungan pertemanan yang terjalin dengan baik selama bertahun-tahun. Di sana, ada aspek “merasa diuntungkan” karena mendapatkan manfaat dari masing-masing pihak. Dalam bahasa Inggrisnya, “Take and Give” yakni “mengambil dan memberi kembali”, sebuah konsep yang mungkin masih kita terapkan dalam berhubungan dengan orang lain. Sebaliknya, jika hanya salah satu yang memberi dan tidak mendapatkan timbal balik, apakah nantinya tidak akan lelah? Baiknya kita memilih pergi, bukankah gambarnya begitu?
Ketulusan manusia, masih adakah?
Jadi, pertanyaannya, apakah manusia masih memiliki ketulusan?
Jika kata tulus merujuk pada banyak pengorbanan, dukungan, dan pengertian yang mendalam, bukankah berarti masih ada sedikit alasan keuntungan mengapa seseorang mau melakukannya.
Penelitian dari Stanford University yang terbit pada tahun 2002, manusia memiliki sifat egoisme psikologis yang mana mengklaim bahwa setiap orang hanya memiliki satu tujuan akhir, yaitu kesejahteraan sendiri.
Hal ini memungkinkan tindakan yang gagal memaksimalkan kepentingan pribadi yang dirasakan, tetapi mengesampingkan jenis perilaku yang ingin ditargetkan oleh para egois psikologis. Seperti perilaku altruistik atau motivasi oleh pikiran tentang tugas semata. Hal ini memungkinkan kelemahan kemauan. Karena dalam kasus kelemahan kemauan, saya masih bertujuan untuk kesejahteraan saya sendiri; saya lemah karena saya tidak bertindak sesuai dengan tujuan saya. Contohnya, membantu orang lain.


