“Jadi sudah maksimal. Sedangkan di lahan sawah tadah hujan masih ada yang IP 1, tapi juga sudah ada yang IP 2,” kata Leli yang menjadi penanggung jawab antisipasi El Nino Kabupaten Sragen, Boyolali, Purworejo dan Kebumen.
Leli mengatakan untuk akselerasi PAT, pihaknya meminta dilakukan identifikasi potensi lahan sawah tadah hujan yang ada yang mampu ditanami dengan bantuan pompanisasi dan identifikasi lahan untuk pemanfaatan PAT (di luar lahan regular).
“Kalau di lahan irigasi akan mudah kita tingkatkan IP, tapi saat ini kita lebih mendorong peningkatan IP di lahan-lahan tadah hujan dengan PAT,” katanya.
Kemudian, lanjut Leli, pemerintah mendorong pemanfaatan tumpang sisip padi gogo di bawah tegakan tanaman kelapa atau lainnya pada areal pinggir pantai.
Kementerian Pertanian telah meluncurkan beberapa varietas padi gogo. Varietas itu di antaranya Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10 dan Inpago Agritan 12. Produktivitas varietas tersebut rata-rata antara 5-7 ton/ha.
“Kami berharap adanya kerja sama dalam pengawalan program antar Petugas Lapang dan pendokumentasian, serta pelaporan data dengan baik,” katanya.
BACA JUGA: Kementan Kucurkan Rp 30 Miliar untuk Petani Terdampak Banjir di Demak, Kudus dan Grobogan
Program pompanisasi Kementan di Jateng
Kementerian Pertanian menggelontorkan bantuan pompanisasi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan. Untuk Provinsi Jawa Tengah bantuan pompa air diberikan untuk 35 kabupaten/kota sebanyak 4.000 unit.
Saat Apel Siaga Alsintan di Jawa Tengah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, program pompanisasi bisa memacu aktivitas tanam di musim kedua tahun ini agar berjalan lebih cepat dan maksimal.
“Saat ini program pompanisasi difokuskan di Pulau Jawa. Semua kawasan sentra produksi dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat, kita bantu kita pompa airnya,” kata Amran.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan PAT.





