Besaran kuota tersebut sesuai dengan karakteristik nelayan Kota Semarang yang umumnya melaut dalam radius sekitar empat mil dari garis pantai dengan durasi melaut hanya satu hari.
“Nelayan di Semarang rata-rata melaut sekitar empat mil dari pantai sehingga kebutuhan BBM-nya berbeda dengan nelayan di daerah lain yang bisa melaut hingga berhari-hari,” katanya.
Untuk mempercepat proses pengajuan, Dinas Perikanan telah melakukan sosialisasi kepada seluruh KUB. Dan akan terus mendampingi nelayan sepanjang Juli dalam melengkapi persyaratan administrasi.
Selain pendampingan, Pemkot Semarang juga menyiapkan layanan jemput bola di Rumah Apung Tambak Lorok pada Agustus mendatang.
Layanan tersebut akan berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta instansi terkait lainnya.
Soenarto mengatakan layanan terpadu itu karena sebagian besar kendala yang nelayan hadapi berkaitan dengan proses administrasi berbasis digital.
“Hasil evaluasi kami menunjukkan kendala terbesar berada pada proses digitalisasi. Karena itu kami hadir langsung agar para nelayan lebih mudah mengurus seluruh persyaratan,” ujarnya.
Ia menambahkan, mayoritas penerima kuota solar bersubsidi berada di kawasan Tambak Lorok dan sekitarnya.
Sementara nelayan di wilayah pesisir barat, seperti Mangunharjo dan Mangkang Wetan. Umumnya menggunakan bensin dan gas elpiji hasil konversi karena mengoperasikan perahu berukuran kecil.
“Nelayan di wilayah barat kebanyakan menggunakan pertalite dan gas elpiji karena perahunya lebih kecil. Sehingga kebutuhan solar tidak sebesar nelayan di Tambak Lorok,” jelasnya.
Salah seorang nelayan di Mangunharjo Semarang, Rahmat, membenarkan bahwa mayoritas nelayan di wilayahnya tidak bergantung pada BBM solar subsidi.
Menurutnya, mesin perahu kecil lebih banyak menggunakan bensin dan gas elpiji yang telah di konversi. “Di sini kebanyakan memakai bensin dan gas elpiji hasil konversi. Jadi kami tidak terlalu bergantung pada solar bersubsidi,” kata Rahmat. (*)





