Batasi dan Awasi Penggunaan Gadget Anak untuk Hindari Pengaruh Buruk Internet

Para narasumber Sosialisasi Non Perda "Plus Minus Penggunaan Gadget Bagi Anak Sekolah" yang digelar di Pemancingan Bina Lingkungan Congol, Karangjati, Kabupaten Semarang. (ardhi/beritajateng.tv)

SEMARANG, 27/11 (beritajateng.tv) – Menghindarkan anak dari ketergantungan terhadap gadget menjadi pekerjaan yang susah susah gampang. Terlebih bagi anak yang terlahir setelah tahun 2000 saat zaman digital dan teknologi internet sudah muncul. Diperlukan pembatasan waktu penggunaan gadget dan pendampingan orang tua agar anak tak terpapar pengaruh buruk peralatan teknologi.

Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Non Perda “Plus Minus Penggunaan Gadget Bagi Anak Sekolah” yang digelar di Pemancingan Bina Lingkungan Congol, Karangjati, Kabupaten Semarang, Sabtu (26/11/2022) malam.

Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto yang hadir secara virtual menjelaskan, dalam kondisi kekinian, anak memang sulit dijauhkan dari handphone. Dia mencontohkan gadget menjadi alat yang membantu pelaksanaan pembelajaran daring saat pandemi Covid-19 lalu. Menggunakan ponsel untuk mengakses media sosial sendiri juga memiliki sejumlah dampak positif bagi anak. Seperti membantu belajar, mencari informasi, serta untuk berinteraksi positif dengan teman-teman di media sosial.

Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto hadir virtual dalam Sosialisasi Non Perda “Plus Minus Penggunaan Gadget Bagi Anak Sekolah” yang digelar di Pemancingan Bina Lingkungan Congol, Karangjati, Kabupaten Semarang. (ardhi/beritajateng.tv)

“Ada banyak konten dan aplikasi edukasi, tebak warna, hingga belajar bahasa asing di internet. Banyak juga video tutorial tentang berbagai hal yang bisa dipelajari,” katanya dalam acara yang dipandu moderator Ricky Fitriyanto tersebut.

Meski begitu, gadget juga berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik dan bisa mengakibatkan anak kecanduan. Terlalu lama menggunakan ponsel dapat membuat anak kurang berinteraksi dengan lingkungan sosial hingga bisa terpapar konten negatif di dunia maya.

“Jika bermain ponsel dalam waktu yang lama, anak bisa terpaku untuk duduk diam selama berjam-jam dan kurang beraktivitas fisik sehingga dapat berpengaruh pada kesehatannya,” paparnya.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Semarang Bagus Suryokusumo mengatakan, banyak orang tua memperbolehkan anaknya bermain ponsel agar tidak rewel. Selain itu, orang tua juga sibuk sendiri dengan memegang gadget masing-masing.

“Pola seperti ini perlu diubah karena tidak bagus. Kecanduan gadget bisa membuat anak bersikap anti sosial karena ponsel ini bisa menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh,” kata dia.

Agar tak terjadi ketergantungan, dia meminta orang tua mendampingi anaknya saat bermain ponsel. Langkah ini untuk mencegah anak mengakses konten-konten yang tak sesuai usianya. Belum lagi, interaksi di media sosial juga rentan menimbulkan cyber bullying yang bisa berpengaruh ke mental anak.

“Kalau melarang sama sekali tampaknya sulit, setidaknya batasi waktu penggunaan handphone bagi anak. Paling tidak hanya saat Sabtu-Minggu atau hari libur,” paparnya.

Sementara Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Semarang Ari Dwi Setyanto mengungkapkan gadget menjadi salah satu penyebab naiknya angka pernikahan dini di Kabupaten Semarang. Menurut dia, tahun 2022 ini, angka pernikahan dini di Kabupaten Semarang naik 5 persen. Hal itu ikut dipengaruhi maraknya interaksi di media sosial.

“Ciri khas remaja itu rasa ingin tahunya tinggi. Maka saya berpesan ke orang tua untuk memantau anaknya saat memakai handphone. Jangan sampai salah langkah dan terjadi pernikahan dini. Kasihan jika anak-anak kita salah langkah, menjadi orang tua di usia muda dan belum siap menjalani kehidupan berumah tangga,” tandasnya. (adv)

editor: ricky fitriyanto

Tinggalkan Balasan