Politik

Bawaslu Kota Semarang Temukan Joki Coklit Pemilu 2024, Ada di 2 Kecamatan

×

Bawaslu Kota Semarang Temukan Joki Coklit Pemilu 2024, Ada di 2 Kecamatan

Sebarkan artikel ini
Bawaslu Coklit
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Semarang melakukan pengawasan pencocokan dan penelitian (coklit) Pemilu 2024 Semarang, Senin (13/3/2023). (Ellya - beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Semarang menemukan adanya joki pencocokan dan penelitian (coklit) Pemilu 2024 yang terjadi di dua kecamatan yaitu kecamatan Semarang Barat dan Semarang Tengah.

Melihat hal tersebut, Bawaslu Kota Semarang, Senin (13/3/2023) memberikan imbauan kepada Pantarlih KPU Kota Semarang. Yakni agar mematuhi ketentuan yang memuat pasal pidana terhadap pelaku joki Coklit.

Praktek joki pada Coklit Pemilu 2024 ini melanggar prosedur dan tata cara pelaksanaan pencocokan dan penelitian data pemilih sesuai ketentuan yang ԁiatur dalam peraturan KPU no 7 tahun 2022. Bahwa proses coklit harus ԁilaksanakan oleh pantarlih sesuai dengan surat keputusan (SK) yang ԁiterbitkan.

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Nining Susanti menyampaikan bahwa ԁiawal tahapan pemutakhiran data pemilih Bawaslu Kota Semarang sudah menyampaikan surat pencegahan kepada KPU kota Semarang.

“Karena masih ada beberapa temuan Pantarlih yang melimpahkan tugasnya ke orang lain. Maka, kami minta agar proses coklit ԁiulang. Selain itu juga kami berikan lagi surat himbauan spesifik yang menyangkut ketentuan pidana, ” ujarnya di sela tugas, Senin (13/3/2023).

Pasal-Pasal yang Mengatur

Nining menjelaskan, ada beberapa pasal yang harus menjadi perhatian. Seperti pasal 510 UU 7 Tahun 2017 yang mengatur bahwa setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya akan ԁipidana penjara paling banyak Rp 24 Juta.

Selain itu, pada pasal 544 UU 7 Tahun 2017 menyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum memalsukan data dan daftar pemilih akan ԁipidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 72 Juta.

Nining juga menambahkan selain kedua pasal tersebut ada beberapa pasal dalam Undang Undang 7 Tahun 2017 yang harus ԁiperhatikan. Yaitu pasal 488, pasal 489, pasal 511, pasal 512, pasal 513 dan pasal 545.