“Kalau telur kan produksinya hampir 938.219 ton. Kemudian kebutuhan juga cukup tinggi, hampir sama dengan produksi,” sambungnya.
Selisih antara produksi dan kebutuhan tersebut membuat surplus telur di Jawa Tengah relatif tipis ԁibandingkan komoditas daging ayam. “Sehingga surplus kita hanya sedikit, kira-kira 7.116 ton dalam setahun,” jelas Defransisco.
BACA JUGA: Over Supply, Harga Ayam Hidup Jatuh hingga Rp11.000, Peternak Rakyat Tertekan
Menurutnya, angka tersebut masih berpotensi berubah seiring berkembangnya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini terus pemerintah perluas.
Pasalnya, hingga kini pemerintah masih menghitung pola penyerapan telur dan komoditas peternakan lain untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di berbagai daerah.
“Ini kita belum final mendapatkan apakah kebutuhan di MBG itu akan ԁilakukan misalnya pengambilan dari peternak itu setiap hari, berapa jumlahnya, dan sebagainya,” katanya.
Tavares menambahkan, pemerintah masih memetakan rantai pasok peternak untuk memastikan kebutuhan MBG dapat terpenuhi tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat umum.
Kenaikan Harga BBM Berpotensi Menambah Biaya Distribusi
Selain menyoroti ketersediaan stok, Tavares mengakui kenaikan harga bahan bakar akan berpengaruh terhadap biaya distribusi produk peternakan.
Menurutnya, ongkos pengangkutan menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan harga pangan di tingkat konsumen.
“Kalau distribusi pasti berkaitan, kan? Pasti berkaitan. Naiknya harga itu pasti masuk dalam perhitungan distribusinya,” ujarnya.
Dampak tersebut akan semakin terasa apabila distribusi produk peternakan harus menempuh jarak yang lebih jauh, termasuk antarprovinsi.
“Apalagi kalau semakin jauh ya, misalnya dari jarak yang lain bisa antarprovinsi dan sebagainya,” kata Defransisco.
BACA JUGA: Pinsar: Program MBG Belum Berdampak Langsung pada Penyerapan Ayam Peternak Rakyat
Meski demikian, ia menilai ԁinamika harga juga sangat ԁipengaruhi oleh kondisi produksi di masing-masing daerah.
Sebagai contoh, Jawa Timur yang memiliki produksi peternakan tinggi cenderung memiliki harga komoditas yang lebih rendah ԁibanding daerah lain.





