SEMARANG, 20/3 (beritajateng.tv) – Ajakan pemerintah beralih dari kendaraan berbasis bahan bakar minyak ke kendaraan menggunakan energi terbarukan mulai dilaksanakan oleh sejumlah pihak.
Tak hanya para produsen kendaraan bermotor, civitas akademika kampus pun mulai menciptakan kendaraan berbahan bakar listrik.
Satu diantaranya civitas akademika Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Dosen bersama para mahasiswanya menciptakan kendaraan listrik berupa becak listrik yang bernama Becikku (Becak Listrik Kampus Udinus).
Koordinator Pameran Artificial Intelligence Kampus Udinus, Ari Heriyanto mengatakan, becak ini menggunakan aki sebagai sumber tenaga.
Di bagian atas, terdapat pula solar oanel untuk menambah tenaga pada aki tersebut. Becak karya mahasiswa dan dosen tersebut bekerja secara otonom.
Becak jalan tanpa supir. Di bagian bawah, terdapat kamera untuk mendeteksi jalan.
“Becak ini bisa membawa empat penumpang tanpa ada supir. Ini sudah ada kamera sensor,” terang Ari, Senin (20/3/2023).
Ari membeberkan, Becikku ini rencananya akan beroperasi di Kota Lama dengan kerja sama Pemerintah Kota Semarang.
Becak ini akan mengitari Kota Lama Semarang. Tak hanya berkonsep kendaraan ramah lingkungan, uniknya, becak ini menggunakan teknologi modern.
Becak tidak hanya terdapat kamera bawah, namun juga kamera depan untuk menangkap gambar gedung-gedung yang ada di Kota Lama.
BACA JUGA: Mengenali Emosi, Membangun Relasi: Tim PKM-PM Unnes Dampingi Remaja PSAA Al Hidayah
Kendaraan tersebut akan menampilkannya melalui layar yang terdapat di bagian depan kursi penumpang sekaligus menjelaksan melalui suara.
“Misalnya, ada Gereja Belenduk, Marabunta, akan ada informasi ke penumpangnya melalui layar, sekaligus akan ada suara. Gereja Belenduk tahun berapa pembuatannya, dan sebagainya,” jelasnya.
Anggota tim pembuatan becak listrik, Toriq Akbar Bagaskoro mengatakan, sejauh ini kendaraan listrik tersebut memang belum ada uji lebih lanjut. Terkait berapa banyak tegangan listrik untuk menempuh sekian kilometer.
Namun, dari uji coba sebelumnya, pihaknya menggunakan 62 volt untuk kemudi depan dan 24 volt untuk kontrol belakang.
“Itu sudah bisa untuk muter-muter lama saat uji coba, sekitar kampus Udinus, ke kampung-kampung. Turunnya sehari 1 volt,” jelasnya.
Kata Toriq, hal yang cukup sulit saat menciptakan becak listrik tanpa pengemudi ini adalah bagian mekanisme jalan otomatis.
Pasalnya, becak perlu mengetahui sensor di sekitar, misalnya, di perempatan, ada orang, pohon, dan lain sebagainya.
Dia bersama tim terus melakukan pengembangan untuk menciptakan becak listrik tersebut lebih baik. (*)
Editor: Elly Amaliyah





