SEMARANG, beritajateng.tv – Sebelumnya, ramai di berbagai sosial media terkait kebijakan sekolah daring mulai April 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Praktikno menyampaikan bahwa kebijakan tersebut guna membantu kelancaran proses belajar mengajar akibat penghematan energi yang terjadi.
Sehingga akan berlangsung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing.
BACA JUGA: Siswa SRMA 18 Blora Balik ke Asrama, Sekolah Siapkan Pembelajaran Tambahan
Namun seiring berkembangnya isu terkini, Pemerintah kini akhirnya secara resmi membatalkan wacana penerapan pembelajaran daring tersebut.
Keputusan tersebut guna menjaga kualitas pendidikan karena mengacu pada capaian belajar mengajar yang menurun seperti pandemi Covid-19.
Berikut ini beberapa alasan mengapa pemerintah membatalkan kebijakan pembelajaran daring yang rencananya akan berlangsung April 2026.
Alasan Sekolah Daring Batal
Prioritas Pembelajaran Tatap Muka: Upaya mencegah terjadinya learning loss sekaligus menjaga efektivitas proses belajar.
Penguatan Karakter: Menjamin nilai-nilai sosial dan kedisiplinan siswa tetap terbentuk melalui interaksi langsung.
Pemanfaatan Sumber Daya: Mengoptimalkan fasilitas sekolah yang telah tersedia secara maksimal.
Efisiensi Terarah: Penghematan energi difokuskan pada sektor birokrasi, seperti mengurangi perjalanan dinas dan pelaksanaan rapat daring bagi ASN.
Pemerintah menilai bahwa mempertahankan pembelajaran tatap muka merupakan langkah strategis untuk mempercepat peningkatan mutu pendidikan nasional. Sejalan dengan berbagai program prioritas seperti Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Sekolah Unggul Garuda.
Kemendikdasmen pun mengajak pemerintah daerah, para guru, serta orang tua untuk bersinergi dalam menjaga keberlangsungan layanan pendidikan yang berkualitas di seluruh Indonesia.
Sejalan dengan hal itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa sektor pendidikan tidak termasuk dalam kebijakan penyesuaian aktivitas setelah libur Idul Fitri.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa interaksi tatap muka di kelas memiliki peran yang tidak tergantikan oleh teknologi, terutama dalam pembentukan karakter siswa. (*)





