Gaya Hidup

Berikut Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Turun Temurun pada Era Wali Songo

×

Berikut Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Turun Temurun pada Era Wali Songo

Sebarkan artikel ini
kapan lebaran ketupat | Tradisi Lebaran Ketupat
Ilustrasi Lebaran Ketupat. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Lebaran ketupat yang berlangsung H+7 setelah Idul Fitri kini sebuah tradisi yang sudah berlangsung cukup lama.

Uniknya, tradisi yang satu ini di beberapa wilayah terkenal dengan istilah Syawalan. Tentu sesuai dengan namanya, di hari lebaran tersebut identik dengan makanan khas ketupat.

Berikut ini filosofi lengkapnya terkait sejarah dari dari lebaran tersebut yang erat kaitannya dengan salah satu tokoh Wali Songo yakni Sunan Kalijaga.

BACA JUGA: Penjual Janur di Blora Diserbu Emak-emak Jelang Lebaran Ketupat, Omzet Naik 40 Persen

Filosofi Lebaran Ketupat

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari istilah dalam bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.

Oleh karena itu, ketupat menjadi simbol agar sesama Muslim saling mengakui kekeliruan, bermaaf-maafan, dan melupakan kesalahan, yang secara simbolis diwujudkan dengan memakan ketupat bersama.

Ketupat juga mengandung berbagai makna filosofis. Anyaman bungkusnya yang terbuat dari janur kuning melambangkan penolak bala dalam budaya Jawa.

Sementara bentuknya yang segi empat mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer,” yang bermakna bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Selain itu, kerumitan anyaman ketupat memiliki makna sebagai gambaran beragam kesalahan manusia.

Sedangkan warna putih pada bagian dalam ketupat saat terbelah melambangkan kesucian dan kebersihan setelah memohon ampun.

Beras yang menjadi isi ketupat juga memiliki makna sebagai simbol kemakmuran setelah perayaan hari raya.

BACA JUGA: Kapan Tradisi Lebaran Ketupat 2026? Simak Tanggal dan Sejarahnya: Sarat Makna Filosofis Ngaku Lepat

Dahulu, terdapat tradisi yang kini mulai jarang berlangsung, yaitu menggantung ketupat matang di atas kusen pintu rumah bersama pisang sebagai penolak bala selama berhari-hari hingga mengering.

Biasanya, penyajian ketupat yakni bersamaan dengan opor ayam dan sambal goreng, yang juga memiliki makna tersendiri.

Opor ayam menggunakan santan, yang dalam bahasa Jawa disebut “santen,” yang artinya sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf.

Itulah filosofi dari lebaran ketupat yang terkenal di masyarakat Jawa dengan berbagai tradisi uniknya yang begitu khas. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp