BLORA, beritajateng.tv – Perajin batu bata merah di Kabupaten Blora, merasakan dampak musim panas atau kemarau untuk produksi kerajinannya.
Para perajin batu bata harus beradaptasi dengan cuaca panas yang membawa berkah, sekaligus juga kendala ketersediaan air.
Kondisi tersebut para perajin batu bata merah rasakan, di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Blora. Meskipun, di sisi lain cukup kesulitan mendapatkan pasokan air untuk produksi batu bata.
Salah seorang perajin batu bata merah, Sarmidi, mengatakan, dia bersama istrinya harus bekerja ekstra untuk mendapatkan air sekaligus mempertahankan produksi batu bata.
“Kalau musim kemarau memang air sulit. Akan tetapi untuk pengeringan batu bata lebih cepat,” kata dia, Senin, 5 Oktober 2026.
BACA JUGA: Sentuhan Winika Desiana, Selamatkan Kucing Terlantar hingga Garap Kerajinan Bantal Anabul
Meski terkendala air, Sarmidi masih mampu mencetak sedikitnya 700 batu bata merah per hari.
Akan tetapi, Sarmidi akui, pada musim panas, ternyata juga membawa keuntungan bagi pengrajin batu bata.
Cuaca panas membuat proses pengeringan batu bata lebih cepat berbanding apabila saat musim hujan.
BACA JUGA: Dari Bungkus Pakan Anabul, jadi Kerajinan Eco Handbag Bermotif Geometri Ala Squid Game
Sarmidi juga mengatakan, hasil produksi batu bata merah saat musim panas seperti ini akan lebih bagus.
Dalam sekali proses pembakaran, dia bilang, mampu menghasilkan sekitar 13 ribu batu bata merah siap jual.
Batu bata hasil produksi, kata Sarmidi, biasanya langsung toko bangunan maupun pengepul ambil.
Kendala Pasokan Air untuk Produksi
Kondisi musim panas ini, membuat Sarmidi, harus mengambil air dari sebuah sumur sendang yang berjarak hampir dua kilometer dari lokasi produksi.
Untuk memenuhi kebutuhan air, kata dia, para pengrajin menggunakan sepeda motor dan membawa tiga jeriken setiap kali mengambil.
BACA JUGA: Usai 216 Siswa Keracunan MBG, SPPG Sukorejo 2 Blora Akhirnya Ditutup Permanen
Air tersebut dia gunakan untuk membasahi tanah yang menjadi bahan baku batu bata.
Kemarau panjang membuat kondisi tanah semakin keras. Artinya membutuhkan lebih banyak air agar bisa melembekkan dan mencetak adonan tanah liat. (*)
Editor: Diaz A Abidin





