Yang kedua, lanjut Sucipto, tidak adanya pengawasan ketat dari atasan kepada pekerja di lapangan. Sehingga menyebabkan terjadinya miss komunikasi.
“Sebenarnya kesalahan ini tidak terjadi kalau proses penulisannya itu melibatkan salah satu guru bahasa Jawa saja,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





