Tim pansel melakukan wawancara langsung dengan atasan, rekan kerja, hingga bawahan masing-masing calon untuk mengetahui rekam jejak kepemimpinan dan integritas mereka.
Bahkan, pansel disebut melakukan penelusuran langsung ke Kota Malang untuk menggali informasi terkait salah satu kandidat tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
“Pansel mendatangi langsung sejumlah pihak untuk memastikan rekam jejak kandidat secara objektif dan mendalam,” ujarnya.
Tahapan akhir melalui wawancara tertutup oleh lima anggota pansel terhadap masing-masing kandidat selama sekitar satu jam.
Hasil seluruh penilaian kemudian di rekap dan menghasilkan tiga nama dengan nilai tertinggi. Sebelum pihaknya serahkan kepada Wali Kota Semarang, BKN, dan Gubernur Jawa Tengah untuk mendapatkan persetujuan teknis.
Nilai Tertinggi dari Kandidat Lain
Dari hasil seleksi tersebut, Handi Priyanto akhirnya terpilih sebagai Sekda Kota Semarang setelah memperoleh nilai tertinggi dari seluruh tahapan seleksi.
“Semua kandidat adalah ASN terbaik. Namun berdasarkan hasil penilaian empat tahapan tadi. Pak Andi memperoleh nilai paling tinggi,” kata Joko.
Ia juga menegaskan tidak ada praktik suap maupun jual beli jabatan dalam proses seleksi tersebut. Bahkan, Joko mengaku siap mempertanggungjawabkan pernyataannya secara moral dan hukum.
“Saya berani bersumpah, tidak ada suap-menyuap, tidak ada jual-beli jabatan, dan tidak ada bayar-membayar sedikit pun dalam proses seleksi Sekda kali ini,” tegasnya.
Joko meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Ia berharap publik tetap menjaga suasana kondusif dan mendukung jalannya pemerintahan secara sehat.
“Jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak jelas sumbernya dan tanpa bukti. Mari kita dukung pemerintahan dengan suasana yang tenang dan saling mendukung, bukan dengan narasi fitnah atau provokasi,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





