“Secara umum potensi hujan di Jawa Tengah masih cukup tinggi. Hujannya ringan sampai sedang, tapi beberapa wilayah masih berpotensi hujan lebat, terutama di sekitar Pegunungan Tengah,” ujar Winda.
Wilayah yang perlu diwaspadai, kata dia, meliputi kawasan Pegunungan Tengah, Pantura, sebagian Soloraya, dan Jawa Tengah bagian timur. Ia menegaskan Februari masih merupakan periode musim hujan, bahkan di beberapa daerah masih masuk puncak musim hujan.
“Kalau dibilang berhenti kapan, memang belum. Karena Februari ini masih musim hujan. Mungkin bulan Maret nanti baru mulai masuk musim peralihan,” terangnya.
BACA JUGA: BMKG Soroti Dinamika Atmosfer Aktif, Hujan Lebat Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah
BMKG secara khusus menyoroti wilayah Pantura yang masih rawan banjir akibat curah hujan yang cukup tinggi. Daerah-daerah yang perlu diwaspadai antara lain Pekalongan, Pemalang, Jepara, hingga wilayah pesisir lainnya. Curah hujan lebat di wilayah tersebut diperkirakan berkisar antara 50 hingga 100 milimeter per hari.
“Pantura masih rawan banjir karena potensi hujannya cukup tinggi. Kalau hujan lebat itu berkisar antara 50 sampai 100 milimeter per hari,” jelasnya.
Sementara itu, wilayah yang berbatasan dengan Pegunungan Tengah juga menghadapi ancaman banjir bandang dan longsor.
“Wilayah Brebes bagian selatan, sekitar Pegunungan Slamet, Pekalongan selatan, Pemalang selatan itu potensinya longsor dan banjir bandang. Potensinya masih cukup besar,” ujar Winda.
Operasi Modifikasi Cuaca Telah Berlangsung Selama 20 Harian
Lebih jauh, BMKG mengungkap Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah telah terlaksana pada 3 Februari 2026. Operasi tersebut berlangsung selama kurang lebih 20 hari, sejak pertengahan Januari.
Pelaksanaan OMC tersebut, lanjutnya, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pihak terkait lainnya.
“OMC sudah berjalan dan selesai terakhir tanggal 3 Februari. Kurang lebih sekitar 20 hari. Kita tidak melakukan sendiri. OMC berlangsung bersama BNPB sebagai penyelenggara, BMKG, dan pihak lain termasuk pihak swasta,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, jumlah sorti atau penerbangan penyemaian awan dilakukan secara dinamis, menyesuaikan kondisi cuaca harian.





