Jateng

Bupati Blora Minta OPD Tak Cuma Habiskan Anggaran, Dorong Kejar Sumber Pendapatan Baru

×

Bupati Blora Minta OPD Tak Cuma Habiskan Anggaran, Dorong Kejar Sumber Pendapatan Baru

Sebarkan artikel ini
OPD Blora
Bupati Blora, Arief Rohman (tengah), saat High Level Meeting Evaluasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) dan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2026 di Ruang Pertemuan Sekretariat Daerah Kabupaten Blora, Selasa, 8 September 2026. (Heri/beritajateng.tv)

Dalam forum tersebut, Prof. Muhammad Mas’ud memaparkan sejumlah strategi memperkuat kemandirian fiskal daerah.

Ia menyebut PAD Blora sekitar Rp547 miliar, atau sekitar 6 persen dari APBD 2025 yang mencapai Rp2,831 triliun. Dalam paparannya, Blora ԁisebut berada di peringkat ke-25 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam hal kemandirian fiskal.

Mas’ud mengatakan terdapat sejumlah faktor yang menentukan keberhasilan daerah, di antaranya kepemimpinan visioner, keuangan daerah yang kuat, birokrasi inovatif, serta strategi pembangunan yang tepat.

Menurutnya, keuangan daerah bukan sekadar angka dalam APBD, melainkan instrumen untuk membiayai pembangunan, menjalankan pemerintahan, dan merealisasikan visi serta program kepala daerah.

BACA JUGA: 213 Atlet Blora Siap Berlaga di POPDA Jawa Tengah 2026, Target Pertahankan Prestasi 2025

Ia mendorong Blora menerapkan dual track strategy, yakni pembangunan melalui pendekatan kewilayahan dan sektoral yang tetap berbasis pada aspek kemanusiaan.

Mas’ud menyebut sedikitnya lima hal yang perlu ԁiperkuat Blora untuk meningkatkan PAD. Pertama, membangun data wajib pajak dan objek pajak yang valid. Kedua, menyediakan data baru yang bersifat kuantitatif dan mudah ԁiakses OPD penghasil.

Ketiga, memperkuat inovasi, termasuk memperluas implementasi ETPD. Keempat, mengevaluasi Perda maupun regulasi kepala daerah yang berpotensi menghambat optimalisasi pendapatan.

Kelima, pemerintah daerah harus mau belajar dari daerah lain, berani mengambil risiko secara terukur, dan membangun kerja sama produktif dengan berbagai pemangku kepentingan.

Sejumlah sumber PAD juga ԁinilai masih bisa ԁioptimalkan, mulai dari PBB, pajak hotel dan restoran, BPHTB, pajak reklame, hingga potensi BUMD, pasar dan usaha burung walet.

Perbaikan basis data wajib pajak, penyesuaian NJOP dan BPHTB, penguatan juru tagih dan juru taksir, penerapan sistem denda, serta perbaikan regulasi juga menjadi perhatian.

BACA JUGA: SPPG Ngawen 1 Blora Belanja Bahan Baku Dapur di Kopdes Merah Putih, Dorong Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

“Kalau ingin fiskalnya kuat, PAD harus ԁiperkuat. Ini membutuhkan data yang kuat, inovasi, regulasi yang mendukung, serta keberanian melakukan perubahan,” ujar Mas’ud.