Ia menyebut, kontribusi sektor lain seperti parkir dan terminal tetap ada, namun nilainya jauh di bawah pendapatan dari Trans Jateng.
“Yang lain itu normatif saja. Parkir roda dua, roda empat, parkir di terminal, kios di terminal, dan sewa gedung. Tapi yang paling besar memang Trans Jateng,” ujarnya.
Menurut Arief, keterbatasan pengelolaan parkir di luar badan jalan membuat sektor parkir tidak menjadi penyumbang utama pendapatan Dinas Perhubungan.
“Parkir kami terbatas karena tidak di badan jalan. Yang bisa kami kelola ya parkir di terminal,” jelasnya.
Selain Trans Jateng, Dinas Perhubungan juga mengoptimalkan aset terminal untuk meningkatkan pendapatan daerah. Arief menyebut peningkatan cukup signifikan terjadi di wilayah Solo Raya.
“Secara umum yang meningkat cukup signifikan itu di wilayah Solo Raya. Terminal-terminal tipe B kami optimalkan asetnya,” katanya.
Ia menjelaskan, terminal yang pada siang hari untuk aktivitas transportasi, kini untuk kegiatan ekonomi di malam hari. Bahkan, Arief menyebut ada terminal yang telah beroperasi selama 24 jam dengan fungsi berbeda.
“Terminal itu kan operasional sampai jam 18.00. Setelah itu, dari jam 18.00 sampai malam kami manfaatkan untuk kegiatan kuliner. Ada satu terminal yang malam sampai pagi dimanfaatkan untuk pasar. Jadi siang terminal, malam pasar,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





