SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah mencatat bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng menjadi penyumbang pendapatan terbesar sepanjang 2025. Dari seluruh koridor yang beroperasi, trayek Semarang–Bawen tercatat sebagai penyumbang pendapatan paling besar.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Arief Djatmiko, menyebut koridor Semarang–Bawen merupakan trayek awal pengembangan Trans Jateng yang hingga kini masih memiliki tingkat okupansi tinggi.
“Kontribusi paling besar itu Semarang-Bawen. Itu trayek tradisional, trayek yang memang dari awal kami kembangkan dan jalurnya melewati kawasan industri dan sekolah, jadi cukup besar,” ujar Miko saat beritajateng.tv jumpai di Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa, 6 Januari 2026 sore.
Saat ini, kata Miko, koridor Semarang-Bawen dilayani sekitar 28 hingga 29 unit bus. Dari total keseluruhan armada Trans Jateng sebanyak 115 unit, mayoritas bus yang telah berusia di atas 10 tahun berada di koridor tersebut.
BACA JUGA: Ubah Pola Kelola Sampah, DLHK Jateng Gandeng Pabrik Semen Serap Sampah jadi Bahan Bakar
“Nanti yang pertama diremajakan ya Semarang-Bawen, karena yang usia di atas 10 tahun itu ada di situ,” katanya.
Miko memastikan Dinas Perhubungan belum merencanakan penambahan armada dalam waktu dekat. Namun, peremajaan bus Trans Jateng mulai direncanakan pada 2027.
“Penambahan armada sementara belum. Tapi rencana 2027 mulai ada peremajaan. Bulannya belum bisa memastikan karena tergantung mekanisme pengadaan dan kerja sama dengan konsorsium,” jelasnya.
Saat ini, kata Miko, Trans Jateng melayani tujuh koridor, yakni Semarang-Bawen, Semarang-Grobogan, Semarang-Kendal, Solo-Wonogiri, Solo–Sragen, serta Magelang-Purworejo.
Pendapatan Dinas Perhubungan Lampaui Target, Bus Trans Jateng Dominan dan Terima Solo Raya Paling Aktif
Arief mengungkap, pendapatan Dinas Perhubungan Jawa Tengah sepanjang 2025 melampaui target yang ditetapkan. Dari target sekitar Rp36 miliar, realisasi pendapatan mencapai 108 persen.
“Target kemarin kami lampaui 108 persen. Dari Rp39 miliar total pendapatan, Rp34 miliar itu berasal dari Trans Jateng,” ungkapnya.
Ia menyebut, kontribusi sektor lain seperti parkir dan terminal tetap ada, namun nilainya jauh di bawah pendapatan dari Trans Jateng.
“Yang lain itu normatif saja. Parkir roda dua, roda empat, parkir di terminal, kios di terminal, dan sewa gedung. Tapi yang paling besar memang Trans Jateng,” ujarnya.
Menurut Arief, keterbatasan pengelolaan parkir di luar badan jalan membuat sektor parkir tidak menjadi penyumbang utama pendapatan Dinas Perhubungan.
“Parkir kami terbatas karena tidak di badan jalan. Yang bisa kami kelola ya parkir di terminal,” jelasnya.
Selain Trans Jateng, Dinas Perhubungan juga mengoptimalkan aset terminal untuk meningkatkan pendapatan daerah. Arief menyebut peningkatan cukup signifikan terjadi di wilayah Solo Raya.
“Secara umum yang meningkat cukup signifikan itu di wilayah Solo Raya. Terminal-terminal tipe B kami optimalkan asetnya,” katanya.
Ia menjelaskan, terminal yang pada siang hari untuk aktivitas transportasi, kini untuk kegiatan ekonomi di malam hari. Bahkan, Arief menyebut ada terminal yang telah beroperasi selama 24 jam dengan fungsi berbeda.
“Terminal itu kan operasional sampai jam 18.00. Setelah itu, dari jam 18.00 sampai malam kami manfaatkan untuk kegiatan kuliner. Ada satu terminal yang malam sampai pagi dimanfaatkan untuk pasar. Jadi siang terminal, malam pasar,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





