SEMARANG, 17/10 (beritajateng.tv) – Destinasi wisata yang dikelola swasta diharapkan tak menjadi pesaing desa wisata dalam mendatangkan pengunjung. Perlu ada paket-paket wisata yang ditawarkan agar antar pengelola antar destinasi bisa saling berkolaborasi. Desa wisata juga disarankan menonjolkan keunikan lokal yang tak ada di tempat lain sebagai daya tarik bagi pengunjung.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion “Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Semarang” yang digelar di destinasi wisata Bukit Cinta, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu (15/10/2022).
Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto mengatakan, pengembangan pariwisata tak boleh parsial. Dia meminta ada koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan desa wisata. Menurutnya, destinasi yang dikelola swasta tentu lebih profesional dalam pengelolaan dan promosi yang dilakukan lebih gencar. Namun pengelola desa wisata juga bisa menonjolkan keunikan yang tak ada di tempat lain seperti kearifan lokal dan keseharian masyarakat desa.

“Gali keunikan dan kreativitas agar bisa ambil celah apa yang ditawarkan. Ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi kita agar antar destinasi wisata bisa berkolaborasi,” ujar Bambang yang hadir secara virtual.
Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening mengatakan, antusiasme masyarakat dalam mengangkat potensi dessanya menjadi desa wisata luar biasa. Kini saat pandemi mereda, desa wisata mulai bangkit kembali. Desa wisata juga memberikan manfaat ekonomi yang besar untuk masyarakat. Sebab sebagian besar desa wisata melibatkan pelaku usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di lingkungan masing-masing.





