Dia menambahkan, penanganan stunting tidak hanya mencakup pemenuhan gizi ibu hamil dan balita. Faktor lain, terutama penyiapan sanitasi lingkungan yang baik juga perlu diperhatikan.
Camat Bringin, Moh Taufik mengatakan, jajarannya melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah stunting. Diantaranya dengan memberikan sosialisasi kepada calon pasangan suami istri (pasutri) bekerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA).
“Di Kecamatan Bringin masih ada 142 balita yang stunting dan tersebar di 16 desa. Ini merupakan tantangan kita bersama untuk memberi pemahaman ke masyarakat,” katanya.
Taufik menambahkan, butuh dukungan semua pihak agar upaya tersebut berhasil. Termasuk dari pemerintah desa dan garda terdepan layanan kesehatan seperti Puskesmas serta Posyandu.
“Semua akan berhasil jika ada upaya bersama. Kendala pasti ada. Kita semua berharap ada penurunan angka stunting yang signifikan,” katanya.
Sub Koordinator Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, Siti Aliyatun mengatakan, antisipasi stunting dapat dilakukan pada 1.000 hari pertama ibu hamil hingga anak berusia 2 tahun. Periode tersebut merupakan masa emas anak berkembang secara optimal.
“Bagaimana kalau anak sudah diatas dua tahun? Bisa (ditangani), tapi sulit pencegahannya, tidak seperti intervensi pada anak usia dua tahun ke bawah,” paparnya.
Dia memaparkan, saat ini tinggi badan anak sedikit sekali dipengaruhi faktor genetik. “Banyak kita lihat bapak dan ibunya pendek tapi anaknya tinggi karena asupan gizinya bagus,” katanya.
Siti mengatakan, stunting terjadi akibat praktik pengasuhan yang tak baik, serta kurang pengetahuan kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan. Fakta di lapangan menunjukkan, sekitar 60 persen anak usia 0-6 bulan tak mendapatkan ASI ekslusif, serta 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tak menerima makanan pengganti ASI.
“Penyebab lainnya adalah kurangnya akses ke makanan bergizi. Saat ini satu dari tiga ibu hamil mengalami anemia,” ujarnya.





