Dikatakannya, prevalensi stunting pada balita di Kabupaten Semarang tahun 2017-2020 cenderung menurun. Sementara prevalensi stunting pada balita di Kabupaten Semarang tahun 2020-2021 justru mengalami peningkatan. Pada tahun 2021 masih ada 3.930 kasus balita dengan status sangat pendek dan pendek di Kabupaten Semarang.
Dinas Kesehatan sendiri melakukan berbagai upaya pencegahan stunting. Sasaran proritas pencegahan diarahkan pada remaja putri, ibu hamil, dan balita. Caranya dengan perbaikan gizi ibu hamil dan balita, pemberian tablet tambah darah pada remaja putri, hingga menyarankan ASI ekslusif untuk bayi.
Selain itu, ada sosialisasi Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) pada tenaga kesehatan, kader, dan Tim Penggerak PKK, mendirikan rumah pemulihan gizi di 4 puskesmas rawat inap dengan mendatangkan dokter spesialis anak dan fisioterapi. (adv)





