SEMARANG, beritajateng.tv – Kondisi terbatasnya air yang masih berlanjut membuat beban biaya produksi para petani Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang terus melonjak.
Petani yang sudah harus mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pupuk, kini juga mengeluarkan biaya bahan bakar pompa air untuk mengairi sawahnya.
Kondisi air di saluran irigasi sudah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan persawahan warga. Debitnya terus mengalami penurunan.
Kondisi itu salah satunya Hasan (62) alami. Dia merupakan salah satu petani di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa.
Hasan bilang, perlu usaha kebutuhan air untuk sawahnya tetap tercukupi.
Dia harus memompa air dari sungai terdekat yang jaraknya ratusan meter.
“Dalam empat hari sekali, kami harus memompa air untuk mengairi sawah agar bisa panen,” katanya, di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Selasa, 6 Oktober 2026.
Untuk mengoperasionalkan pompa air tersebut, kata dia, membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite.
BACA JUGA: Pemprov Jateng Salurkan 8,5 Juta Liter Air Atasi Kekeringan, Ahmad Luthfi: Sawah Tadah Hujan Kami Sumurisasi
Sementara untuk setiap pengairan dengan pompa butuh paling tidak 10 liter pertalite.
Masih menurut Hasan, untuk saat ini dalam satu bulan bisa delapan kali memompa air.
“Dengan harga pertalite Rp10 ribu per liter dalam satu bulan kebutuhan BBM pompa air sudah mencapai Rp800 ribu,” katanya.
Kondisi yang sama, ucap Hasan, juga dialami para petani di lingkungan Desa Bejalen. Bahkan umumnya para petani di wilayah Kecamatan Ambarawa.
“Musim kemarau kali ini menyusul penyusutan debit air beberapa sungai yang mengalir ke danau Rawa Pening,” ucap Hasan.
BACA JUGA: Unik! Lomba Balap Ojek Gabah di Blora Adu Kelincahan Angkut Karung, Lintasi Jalan Setapak Persawahan
Dia juga mengatakan, termasuk air sungai panjang yang selama ini menjadi sumber irigasi pertanian warga.
Para petani harus menanggung beban biaya produksi pertanian yang bertambah.





