SEMARANG, beritajateng.tv – Warga Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang mengeluhkan kinerja pompa air yang dinilai belum maksimal dalam mengatasi banjir yang kerap melanda wilayah mereka.
Ketua RW II Trimulyo, Sunariyo, menyebut dari lima pompa yang seharusnya beroperasi, hanya dua yang aktif setelah pejabat meninggalkan lokasi.
“Harapan dari warga ya maunya tiap tahun enggak ada banjir lagi, juga carikan solusinya,” kata Sunariyo.
Ia menjelaskan, secara geografis Trimulyo berada di dataran rendah, sehingga menjadi lokasi penampungan limpasan air dari kawasan sekitar seperti Banjardowo, wilayah timur, dan selatan. Kondisi itu menyebabkan air tidak bisa mengalir secara alami ke sungai tanpa bantuan pompa.
“Trimulyo ini desa yang paling rendah. Jadi aliran dari air dari Banjardowo, dari kawasan Terboyo, dari timur dan selatan itu limpasannya ke sini semua. Sementara air di Trimulyo harus di pompa keluar ke sungai,” kata dia.
Sunariyo yang lahir dan besar di Trimulyo mengatakan, banjir kini terjadi hampir setiap kali hujan turun. Padahal, pada masa lalu banjir tidak datang setiap tahun, meski wilayah ini di kenal sulit surut ketika tergenang.
BACA JUGA: Kepala BNPB: Dalam 3 Hari ke Depan, Banjir Semarang Ditargetkan Surut Total
“Wilayah kami ini seperti mangkuk. Air dari mana-mana masuk ke sini. Karena itu kami butuh pompa yang benar-benar bekerja optimal supaya air bisa keluar ke sungai,” jelasnya.
Ia menambahkan, warga sudah terbiasa menghadapi situasi banjir, bahkan hingga sebulan penuh. Dalam kondisi parah, aktivitas warga lumpuh total karena listrik padam dan akses jalan terputus.
“Dulu pernah banjir sampai satu bulan. Lampu mati semua, warga terisolasi. Biasanya kami minta bantuan perahu dari Damkar atau lembaga lain untuk membantu mobilitas warga,” ujarnya.
Sunariyo berharap Pemerintah Kota Semarang dapat memberikan solusi menyeluruh agar banjir di Trimulyo bisa diatasi secara permanen. Ia menilai perbaikan sistem pompa dan pengelolaan saluran air harus menjadi prioritas utama.
“Pompa kurang maksimal. Kadang nyuwun sewu nggih, kadang pompanya itu kalau difoto itu pompanya hidup lima. Tapi setelah pejabat pulang yang hidup tinggal dua,” ungkap dia.
Menurutnya, warga sudah sering mengingatkan petugas agar semua pompa bisa berfungsi maksimal.
“Warga selalu komunikasi. Namanya orang kan ada lupanya nggih. Jadi warga juga sering mengingatkan. Bukannya ada benturan, enggak ada, cuman kan warga saling mengingatkan,” imbuh dia.
Warga, lanjut dia, bahkan memakluminya, dan menduga ada trouble dalam mesin pompa.
“Iya, biasanya lima yang nyala cuma dua, mungkin ada yang trouble. Makanya kan kami sering komunikasi dengan penjaga pompa,” sebutnya.
Selama banjir, lanjut dia, aktivitas warga nyaris lumpuh. Namun dengan adanya bantuan prahu karet dari Damkar dan BNPB, warga bisa menggunakan untuk akses keluar masuk kampung.
“Harapan kami sederhana, tiap tahun jangan sampai banjir terus. Warga ingin ada langkah nyata supaya bisa hidup tenang tanpa takut air masuk rumah lagi,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





