D3 Manajemen UNDIP Kampus Rembang Dorong Mahasiswa Bangun Local Pride

D3 Manajemen UNDIP Kampus Rembang Dorong Mahasiswa Bangun Local Pride

Semarang, 26/6 (BeritaJateng.tv) – Perhatian publik pada perkembangan Indonesia dewasa ini tak lagi hanya tertuju pada ibu kota saja. Banyaknya local champion yang muncul di berbagai daerah pun dinilai menjadi salah satu tren positif dalam membangun generasi Indonesia emas.

Hal itulah kemudian yang mendasari Program Studi D3 PSDKU Sekolah Vokasi UNDIP Kampus Rembang untuk semakin menguatkan semangat mahasiswa dalam membawa identitas lokal pada berbagai karya.

Ditegaskan oleh Andriyani selaku Kepada Program Studi, bahwa mahasiswa perlu memahami bahwa segala hal yang bersifat lokal adalah merupakan bagian dari keragaman Indonesia, yang harus menjadi perhatian.

Andri meyakini justru dari konten lokal, mahasiswa mampu belajar menjadi genuine dan otentik.

“Kita punya local wisdom yang luar biasa, local brand yang mampu mendunia, dan local empowerment yang nantinya akan mejadi pondasi pemberdayaan manusia Indonesia secara terus menerus,” tutur Andri.

Maka dari itu, dalam kegiatan KKL yang dilaksanakan online beberapa waktu lalu tersebut, Andri pun mendapuk tiga pembicara untuk bisa meningkatkan perhatian mahasiswa pada konten lokal.

“Narasumber pertama yang berbicara terkait Local Wisdom adalah Bapak Haji Taj Yasin Maimoen atau biasa kita kenal Gus Yasin sebagai wakil gubernur Jawa Tengah,” terang Andri.

“Narasumber kedua adalah mas Arto Biantoro selaku aktivis brand lokal yang berbicara terkhusus soal Local Brand, serta narasumber ketiga adalah Ibu Syanaz Winanto sebagai pemilik Rorokenes mengingat isu Local Empowerment juga penting untuk kita angkat,” lanjutnya.

Adapun dalam kegiatan tersebut, Taj Yasin Maimoen menekankan bahwa semangat mengangkat local wisdom atau kearifan lokal menjadi penting untuk dikuatkan. Pasalnya dia meyakini bahwa Indonesia memiliki banyak nilai – nilai warisan leluhur yang hebat.

Pemerintah Australia dan Denmark mengapresiasi langkah penanganan Covid-19 berbasis potensi masyarakat melalui Jogo Tonggo. Rasa-rasanya ini sebenarnya bukan kehebatan kita. Kita hanya mengembalikan kebiasaan (leluhur) kita saja. Artinya ada identitas lokal yang perlu kita pertahankan,” pungkas Taj Yasin Maimoen.

Di sisi lain Arto Biantoro sebagai aktivis Brand Lokal mengingatkan mahasiswa jika Indonesia memiliki banyak sekali narasi – narasi yang bisa diangkat menjadi sebuah kekuatan dalam membangun brand. “Indonesia punya potensi yang begitu kaya tentang brand – brand lokal yang belum tergali,” pungkas Arto.

“Sebenarnya konteksnya brand hari ini bukan lagi soal bersaing, tapi bagaimana kita memperbaiki diri untuk memberikan yang terbaik. Jadi ada dua energi yang berbeda antara fokus menjadi nomor satu dengan fokus memberikan yang terbaik dalam memberikan manfaat,” tekannya. (Ak/El)

Leave a Reply