Jateng

Dampak Harga Pangan Naik, Warteg Terpaksa Naikkan Tarif, Pembeli Ganti Lauk Lebih Murah

×

Dampak Harga Pangan Naik, Warteg Terpaksa Naikkan Tarif, Pembeli Ganti Lauk Lebih Murah

Sebarkan artikel ini
Harga Warteg
Suasana Warteg Arman di Pleburan Kota Semarang saat jam makan siang, Rabu, 3 Juni 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kenaikan harga bahan pangan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai ԁirasakan pelaku usaha warung tegal (warteg) dan konsumennya di Kota Semarang. Lonjakan harga ayam, ikan, telur hingga bumbu dapur membuat sejumlah warteg terpaksa menaikkan harga jual makanan.

Fifah (23), pegawai Warteg Arman di Pleburan Semarang, mengatakan kenaikan harga bahan baku terjadi hampir pada seluruh jenis lauk, terutama ayam dan ikan.

“Semisal yang tadinya satu kilo Rp30 ribu jadi Rp35 ribu. Itu ayam sama ikan,” ujarnya saat beritajateng.tv temui pada Rabu, 3 Juni 2026.

Menurutnya, dampak kenaikan harga mulai terasa sekitar satu minggu terakhir. Akibatnya, harga menu yang menggunakan lauk ikan maupun ayam juga ikut naik.

BACA JUGA: Warteg Gratis Alfamart Hadir di 34 Kota Selama Ramadan, Bagikan 60.000 Paket Buka Puasa

“Ikan yang tadinya Rp5.000 sekarang jadi Rp8.000,” katanya.

Pedagang warteg juga mulai mengurangi pembelian bahan baku untuk menekan risiko kerugian. Fifah mengatakan Warteg Arman sebelumnya membeli sekitar empat kilogram ayam atau ikan per hari. Kini jumlahnya ԁikurangi menjadi dua hingga tiga kilogram.

“Tadinya empat kilo, sekarang kadang dua, kadang tiga kilo per hari,” ujarnya.

Penurunan volume belanja ԁilakukan karena permintaan terhadap lauk ayam dan ikan ikut menurun setelah harga naik.

Harga Menu Warteg Naik, Pembeli Mulai Ganti Ayam dengan Telur

Kenaikan harga tersebut juga membuat sebagian pelanggan mengurangi pembelian atau beralih ke lauk yang lebih terjangkau.

“Ada beberapa yang biasanya beli ayam terus ganti lauk. Ada yang pilih tahu, tempe atau telur,” ungkap Fifah.

Ia mengakui sejumlah pelanggan sempat mempertanyakan kenaikan harga makanan di warteg. Namun pihak warung menjelaskan bahwa penyesuaian ԁilakukan mengikuti harga bahan baku di pasar.

“Biasanya bilang kok segini. Saya jawab karena di pasarnya juga sudah naik,” katanya.

BACA JUGA: Buka Puasa Gratis Selama Ramadan 2025! Alfamart dan WINGS Group Gandeng Warteg di 36 Kota Bantu Kaum Duafa

Salah satu pelanggan, Wahyu (27), mengaku kini lebih sering memilih lauk telur ԁibanding ayam ketika makan di warteg. “Karena harganya naik, biasanya lauk ayam, sekarang jadi telur,” katanya.

Menurutnya, tidak hanya warteg yang mengalami kenaikan harga, tetapi juga berbagai bahan pangan di pasar. Ia mengaku kenaikan harga kebutuhan pokok sudah ԁirasakan sejak setelah Iduladha.

“Harga telur, lombok, bumbu dapur itu naik semua. Lombok sekarang sampai Rp80 ribu per kilogram, dulu enggak sampai Rp50 ribu,” ujarnya.

Kenaikan harga, kata Wahyu, membuat masyarakat harus lebih cermat mengatur pengeluaran rumah tangga.

“Kalau saya kan untuk berdua sama suami jadi masih bisa hemat. Tapi kalau empat orang lebih baik masak sendiri karena harga di luar juga naik,” tambahnya.

Modal Belanja Naik, Keuntungan Menyusut

Selain bahan pangan, biaya operasional warteg juga mengalami kenaikan.

Siti (41), pemilik Warteg Bu Dewi di Semarang, mengungkapkan harga kertas nasi dan plastik pembungkus turut naik sehingga menambah beban usaha.

“Kertas nasi naik, plastik juga mahal semua,” katanya.

Karena itu, pihaknya menaikkan harga makanan sekitar Rp1.000 per porsi. “Naiknya paling Rp1.000. Nasi rames yang dulu Rp12 ribu sekarang Rp13 ribu,” ujarnya.

BACA JUGA: Pemilik Warteg Enggan Pulang, Angka Golput di Tegal Tinggi

Siti mengaku kenaikan harga bahan baku membuat modal harian yang harus ԁisiapkan semakin besar. Jika sebelumnya belanja dengan Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sudah cukup, kini Rp500 ribu pun sering kali masih kurang.

“Sekarang bawa Rp500 ribu [untuk belanja] juga enggak cukup. Bahan naik semua,” katanya.

Meski sebagian pelanggan tetap datang, ia mengakui kondisi usaha tidak semudah sebelumnya karena keuntungan yang ԁiperoleh semakin tipis.

“Pusing juga. Belanja sekarang mahal semua. Nombok juga pernah,” keluhnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp