SEMARANG, beritajateng.tv – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Sejumlah warga di Dusun Ngoho kini harus menghemat penggunaan air bersih karena debit sumber mata air terus menurun.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bagi warga dilakukan secara bergiliran. Setiap kepala keluarga hanya memperoleh sekitar empat hingga lima jeriken air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga Dusun Ngoho, Giyarto, mengatakan keterbatasan air bersih selalu terjadi setiap musim kemarau. Menurutnya, warga sudah terbiasa mengandalkan bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang ketika pasokan air mulai menipis.
“Setiap hari satu rumah mendapatkan jatah empat sampai lima jeriken dengan cara giliran,” ujar Giyarto, Rabu, 8 Juli 2026.
BACA JUGA: BPBD Siagakan Tandon Air di Dua Desa Rawan Kekeringan, Antisipasi Krisis Air Bersih Saat Kemarau
Ia menjelaskan, warga bersama pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan mengusulkan pembangunan sumur dalam. Namun hingga kini solusi itu belum membuahkan hasil karena beberapa titik pengeboran tidak menemukan sumber air dengan debit yang mencukupi.
Menurut Giyarto, setiap kali musim kemarau tiba, debit air dari sumur yang ada tetap mengalami penyusutan sehingga kebutuhan masyarakat belum dapat terpenuhi secara optimal.
Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Lia Amelia, membenarkan bahwa persoalan kekurangan air bersih di Dusun Ngoho terjadi hampir setiap tahun. Karena itu, BPBD Kabupaten Semarang kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga.
Ia menyebut, pada Selasa, 7 Juli 2026, BPBD telah mengirimkan dua mobil tangki air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di Dusun Ngoho.
BACA JUGA: Proyek WaterWorx Berhasil, PDAM Gandeng Belanda Atasi Krisis Air Bersih Akibat Penurunan Tanah di Semarang
Lia menambahkan, pemerintah sebenarnya sudah beberapa kali mengalokasikan anggaran untuk pengeboran sumur dalam di wilayah tersebut.
Sayangnya, upaya tersebut belum menemukan sumber air dengan kapasitas yang memadai sehingga belum mampu menjadi solusi permanen.





