Ia juga menyoroti penyelesaian utang Sritex kepada Bank Jateng yang perlu segera ada penuntasan melalui penjualan aset.
“Tadi Pak Gub menyampaikan bagaimana proses penyelesaian di Sritex untuk segera lelang, supaya penjualan aset itu bisa mengembalikan utang dari Bank Jateng ke Sritex sekitar Rp300 miliar,” jelasnya.
BACA JUGA: Apa Perbedaan Kopdes Merah Putih dan BUMDes? Ini Penjelasannya
Selain persoalan utang, Aria juga menyinggung dampak sosial dari kasus Sritex, khususnya terhadap ribuan pekerja. Menurutnya, perlu segera ambil keputusan terkait status pekerja agar tidak merugikan buruh.
“Penyelesaian 10 ribu buruh Sritex ini kalau tidak ada keputusan segera, mereka sudah banyak yang mau ditampung di pabrik-pabrik lain,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi membuat pekerja kehilangan hak pesangon jika tidak ada kejelasan status.
“Tapi kalau sudah tertampung di pabrik lain, dia enggak punya jatah untuk uang pesangon PHK,” katanya.
Ia menyebut, Gubernur Jawa Tengah telah berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut, baik dari sisi keuangan maupun tenaga kerja.
Proyeksi Jateng Episentrum Ekonomi
Lebih jauh, Aria optimistis Jawa Tengah memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu didukung oleh konektivitas infrastruktur seperti jalan tol, bandara, pelabuhan, serta jalur kereta api.
“Interkoneksitas Jawa Tengah sangat mampu membuat aset-aset di 35 kabupaten/kota ini menjadi resources yang produktif,” ujarnya.
Ia menilai posisi strategis Jawa Tengah yang berada di antara Jawa Barat dan Jawa Timur menjadi keunggulan tersendiri.
“Saya optimistis Jateng akan menjadi episentrum ekonomi karena letaknya sangat strategis,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





