Catatan Editor

Dari Mary Shelley ke Nabi Daud, Bagaimana Akhir yang Pantas Bagi Kisah Frankenstein Politik Indonesia?

×

Dari Mary Shelley ke Nabi Daud, Bagaimana Akhir yang Pantas Bagi Kisah Frankenstein Politik Indonesia?

Sebarkan artikel ini
Di Buku | Gambar AI | Frankenstein | Semarang Tertinggal | Kita Kami | 2024 PPDB | Sato Reang
Mu'ammar Qadafi. (Foto: Dok. Pribadi)

Victor setuju dan mulai bekerja. Namun, di tengah proses penciptaan, ia tersadar akan potensi bahaya yang lebih besar. Terlebih jika makhluk kedua ini juga tak bisa dikendalikan. Dengan rasa takut akan tanggung jawab yang lebih besar, Victor menghancurkan ciptaan barunya, memicu amarah makhluk pertama. Sebagai balasan, makhluk itu membunuh orang-orang terdekat Victor, satu per satu.

Tragedi demi tragedi membuat Victor semakin terpuruk dalam rasa bersalah dan kebencian. Ia bersumpah untuk memburu makhluk itu hingga ke ujung dunia.

Jokowi meradang bagai monster ciptaan Frankenstein

Sampai di titik itu, permintaan si monster akan seorang pasangan seakan mirip dengan permintaan Jokowi yang menurut dugaan menginginkan lanjut tiga periode jabatan kepresidenan. Hal yang sama terjadi ketika permintaan-permintaan itu tak terpenuhi: keduanya, sang monster dan Jokowi, sama-sama “mengamuk”.

Jokowi, sebagaimana si monster, membabat orang-orang dekat penciptanya, dalam hal ini partai yang dulu mengusungnya menjadi presiden, dengan cara me-reshuffle menteri-menteri dari PDIP. Tak hanya itu, ia pun mencabut dukungan kepada calon presiden usungan PDIP saat itu, Ganjar Pranowo, yang mestinya ia sokong untuk menjadi penerusnya. Ia justru merapat ke calon presiden Prabowo Subianto, mantan rivalnya, serta, seolah-olah “mengajukan” putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi wakil pendamping Prabowo. Lalu, Gibran, putra sulungnya, serta Bobby Nasution, menantunya, yang keduanya sama-sama menjadi kepala daerah berkat PDIP, pun berakhir keluar dari partai lantaran merapat ke Prabowo, mengikuti jejak Jokowi.

BACA JUGA: Memori Kolektif Bocah-bocah Menolak Saleh dalam Novel Teranyar Eka Kurniawan

Demikianlah semua terjadi hingga Prabowo & Gibran berhasil memenangi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024. Hal itu membuat “amarah” Jokowi tampak sebagai umpatan sengit yang telak ia lontarkan kepada PDIP, partai yang dulu menciptakannya.