Lantas, apakah cerita berakhir sampai di situ? Kalau tidak, bagaimana akhir yang pantas bagi kisah Frankenstein berlatar politik Indonesia ini? Sebab, PDIP tampaknya memilih untuk menolak mati, melainkan terus mencoba mengatasi persoalan dengan melawan monster ciptaannya sendiri.
Mungkinkah Raja Jawa berbagi akhir yang sama seperti Raja Jalut?
Bila salah satu orang dekat Jokowi dengan jemawa menyebutnya “Raja Jawa”, maka kisah mirip Raja Jalut ditentang Nabi Daud bakal menjadi sekuel yang menarik. PDIP bertindak sebagai Daud, dan Jokowi, tentu saja, sebagai Jalut. Sebagaimana Daud, PDIP pun seorang diri melawan sang raja raksasa, yakni Jokowi beserta orang-orang dekatnya dalam sebuah koalisi raksasa.
Yang demikian itu tampak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 yang bakal berlangsung November mendatang. Tak sedikit daerah di Indonesia di mana PDIP menjadi partai tunggal yang mengusung pasangan calon (paslon) kepala daerah sendiri. Lawannya? tentu sebagian berasal dari orang dekat Jokowi, atau dari raksasa koalisi bertajuk Indonesia Maju Plus (KIM Plus). Kesemuanya sama-sama berkelindan di lingkaran Jokowi.
BACA JUGA: Menyaksikan Ontran-ontran Program Sastra Masuk Kurikulum di Tepi Gelanggang Polemik
Sebagai contoh, sebut saja medan politik di Provinsi Jawa Tengah. Dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2024, paslon usungan PDIP mesti melawan Ahmad Luthfi, yang notabene orang dekat Jokowi.
Tanpa bermaksud mengagung-agungkan PDIP dengan menyamakannya dengan seorang nabi, mengamini akhir cerita serupa kemenangan Daud atas Jalut untuk Pilkada 2024 barangkali menjadi harapan yang tak naif-naif amat; baik bagi mereka yang menentang koalisi raksasa, maupun bagi PDIP sendiri, yang telah menciptakan monster yang membikin karut-marut politik Indonesia kiwari ini. Barangkali. (*)
Mu’ammar R. Qadafi
Editor beritajateng.tv


