SEMARANG, beritajateng.tv – Meluasnya serangan hama tikus mengakibatkan puluhan hektare tanaman padi di wilayah Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, rusak.
Bahkan tanaman padi yang diserang hama tikus ini dipastikan mengalami puso dan tidak akan bisa dipanen. Atas kondisi ini Pemerintah Desa (Pemdes) Banyubiru menyatakan KLB hama tikus.
Kepala Desa Banyubiru, Sri Anggoro Siswaji mengungkapkan, serangan hama tikus pada lahan sawah di wilayah Desa Banyubiru sudah berlangsung sejak 10 bulan lalu (musim tanam 1 2024).
Namun dalam dua bulan terakhir serangan hama tikus ini semakin parah dan terus meluas hingga mengakibatkan sedikitnya 44 hektare tanaman padi petani di desa ini rusak dan mengalami puso.
“Ini berdasarkan observasi dampak kerusakan selama dua bulan ini,” ungkapnya, saat beritajateng.tv konfirmasi di salah satu lahan persawahan Desa Banyubiru, Senin, 14 April 2025.
BACA JUGA: Pemahaman Masih Rendah, Anggota DPRD Ini Tekankan Pentingnya Pendidikan Politik di Kalangan Masyarakat
Sri Anggoro juga menyampaikan, segala upaya telah para petani lakukan dengan bantuan petugas penyuluh sudah mengupayakan berbavai cara. Namun serangan hama tikus semakin sulit terkendali.
Satu satunya cara pengendalian yang masih efektif saat ini menggunakan racun tikus Racumin. Namun biaya untuk penanganan per hektare dengan racun ini cukup mahal bagi petani.
“Karena untuk 2 hektare lahan sawah membutuhkan total biaya bampir Rp 800 ribu rupiah. Karena Racumin ini juga harus dioplos dengan beras dan beberapa bahan lain yang digemari tikus,” lanjutnya.
Di sisi lain populasi hama tikus pada serangan kali ini memang cukup tinggi. Karena hama tikus yang menyerang tidak hanya dari wilayah Banyubiru saja, tapi juga migrasi dari Rawapening dan persawahan di Kecamatan Jambu.
Upaya alami dengan memasang rumah burung hantu (rubuha) sudah tidak efektif. Karena satu ekor tito alba hanya mampu memangsa empat hingga lima ekor tikus saja.
Sementara populasi hama tikus saat ini luar biasa. “Kami sampai kehabisan akal, bagaimana untuk mengendalikan hama tikus ini,” tegas Kades Banyubiru.
BACA JUGA: Mohamad Pramanda Salih dan Maria Felicia Slamet Riyono Terpilih Sebagai Denok Kenang 2024
Salah seorang petani di Desa Banyubiru, Sarno (68) mengungkapkan, serangan hama tikus pada lahan sawah yang digarapnya mencapai luasan 2 hektare. Akibatnya tanaman padi hang berumur 35 – 75 hari rusak.
Akibat serangan hama ini ia mengalami kerugian biaya produksi hampir mencapai Rp 20 juta rupiah. Kerugian itu mencakup biaya pengolahan tanah, pemupukan hingga usia mencapai 75 hari.
“Itu saja untuk tanam menggunakan tenaga saya sendiri. Kalau itu menggunakan tenaga buruh tanam kerugiannya bisa lebih dari Rp 20 juta,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, untuk mengatasi hama tikus ini juga dilakukan penyetruman dengan genset. “Meskipun tiap malam mampu membunuh ratusan tikus, tapi belum mampu untuk mengendalikan,” tegasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





