Dewan: Lebih dari Rp 200 Miliar Akan Dianggarkan untuk Penanggulangan Banjir Semarang

Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman. /Foto: Ellya.

Semarang, 4/1 (BeritaJateng.tv) – Anggaran dalam penanganan banjir di Kota Semarang mencapai kurang lebib 200 ratus miliar rupiah. Oleh karena itu, dewan akan selalu melakukan koordinasi agar penanganan banjir terlaksana dengan baik.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman usai mengikuti rapat koordinasi penanggulanhan banjir bersama Plt Walikota dan stakeholder di Balaikota Semarang pada Rabu (4/1/2023).

“Anggaran yang dibutuhkan kurang lebih 200an (miliar) itu untuk kebutuhan Sungai Plumbon terus penataan Sungai Bringin dan pembebasan yang ada di Pantura. Jadi prinsip bu Plt pak Sekda kami dorong supaya di Kota Semarang akan selalu lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, setelah tinjauan langsung oleh Menteri PUPR, pihaknya mendapat arahan tentang penanganan banjir. Selain itu, dirinya juga mendapat banyak masukan untuk penanggulangan banjir ke depan.

Penanganan pertama yakni Pompa di Rumah Pompa Tenggang dan Sringin antara air yang datang dan keluar tidak sesuai. Dan dari arahan Menteri PUPR akan dibuka enam pintu air di Tenggang dan delapan pintu air di Sringin.

“Saat ini sudah dilakukan pemesanan selama 6 bulan dan nanti setelah itu dikerjakan selama satu bulan. Saat ini sudah dibantu atas arahan dari bapak Menteri, ditambah 4 pompa portable yang didatangkan dari Jogja, Solo, Cirebon dan Jakarta. Alhamdulillah sudah mulai bekerja tapi kami minta untuk dari DPU Kota Semarang untuk membantu karena ini sekarang genangannya sudah terpusat di Trimulyo dengan beberapa titik dengan ukuran 50 centimeter,” ujar Ita sapaan akrabnya.

Selain penambahan pintu air, juga akan dibangun tanggul laut. Pembangunan ini sudah mulai dikerjakan.

“Saat ini memang excisting lalu dibangun menunggu sampai proses yang lain berjalan,” jelasnya.

Selain itu, Ita mengaku juga akan membangun kolam retensi seluas 250 hektar. Nantinya, wadah penampungan air hujan ini akan menjadi tulang punggung pengelolaan banjir yang ada di wilayah timur.

“Itu nanti Kali Babon dan Sringin akan jadi satu sehingga jadi kolam retensi. Tapi memang saat ini di 250 tadi masih ada 51 orang pemilik yang masih dilabeli tanah musnah. Kemarin pak Menteri akan berupaya untuk terealisasi,” terangnya.

Kemudian untuk di Kecamatan Ngaliyan atau Semarang bagian barat, masih ada penanganan normalisasi Kali Bringun. Ita menyebut ada dua permasalahan yang akan dieksekusi.

“Masih ada PR (pekerjaan) yakni Jembatan Kali Bringin dan juga Jembatan Rel Kereta Api. Tetapi kalau Rel Kereta Api adalah PR dari Kementerian Perhubungan. Yang menjadi tugas kami adalah melakukan peninggian jembatan, ini adalah tugas dari jalan nasional. Tetapi pembebasannya adalah tugasnya Pemerintah Kota Semarang,” katanya.

“Ada sekitar 1.397 meter persegi yang harus dibebaskan tetapi kami tadi mencoba untuk membuat dari BPJN untuk redesign sehingga lebib sedikit untuk pembebasannya sehingga biar cepat,” tambahnya.

Dalam penanganan banjir ini, Ita mengaku sudah mendapat anggaran dari Kementrian PUPR. Saat ini pihaknya tengah fokus untuk melakukan perencanaan agar terealisasi dengan baik.

“Karena dari pak Menteri, anggaran untuk normalisasi, untuk peninggian ini semua sudah ada di kementerian,” tuturnya. (Ak/El)

Tinggalkan Balasan