SEMARANG, beritajateng.tv – Belakang ini viral di sosial media melalui akun ATCS @atcskotasmg petugas Dinas Perhubungan Kota Semarang menegur pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm.
Bukan menggunakan cara yang tegas dan langsung mengancam penilangan. Cara yang mereka gunakan cenderung humanis dan bisa kita bilang lucu.
Salah satunya ketika ada salah satu pengguna sepeda motor yang tidak menggunakan helm, dan dengan santainya membawa joran pancing.
“Mas, naik motor itu pakainya helm, bukan bawa pancing.”
Kalimat itu terdengar jenaka. Namun, teguran seorang petugas melalui pengeras suara traffic light tersebut ternyata bukan sekadar candaan.
Video teguran petugas Dinas Perhubungan Kota Semarang kepada pengendara motor tanpa helm itu viral di media sosial. Salah satu unggahan melalui akun @atcskotasmg bahkan telah di tonton hingga 5,9 juta kali.
Dalam video tersebut, petugas menegur pengendara yang mengendarai sepeda motor tanpa helm. Uniknya, pengendara itu justru membawa joran pancing.
“Lho malah ketawa, jenengan juga nggak bawa helm, lho. Hayo, ini mau gimana? Pancingnya ditukar helm apa?” ujar petugas dalam video tersebut.
Teguran itu petugas sampaikan dengan gaya santai. Tidak ada ancaman penilangan atau nada membentak.
Admin media sosial ATCS juga mengemas video tersebut dengan penyuntingan ringan. Karakter kucing ikut mereka tampilkan sehingga teguran terhadap pelanggar terasa menghibur.
Namun, di balik konten yang mengundang tawa itu, terdapat aktivitas serius. Lima operator ATCS bekerja dalam satu sif untuk memantau kondisi lalu lintas melalui puluhan layar monitor.
Mereka mengawasi kamera yang terhubung dengan sejumlah persimpangan dan traffic light di Kota Semarang. Ketika menemukan pelanggaran, operator dapat langsung mengaktifkan mikrofon dan menyampaikan teguran melalui pengeras suara.
BACA JUGA: Dewan Pertanyakan Rencana Efisiensi Pemkot Semarang, Herlambang: PAD Cuma 88 Persen, Salah Siapa?
Operator ATCS Dinas Perhubungan Kota Semarang, Visna, mengatakan pelanggaran kerap terlihat ketika kendaraan berhenti di persimpangan.
“Memang setiap menit ketika di lampu merah pasti ada yang melanggar. Makanya kita ingatkan untuk tertib, misalnya memakai helm,” katanya.
Visna telah sekitar delapan tahun menjadi operator ATCS. Selama bertugas, ia tidak hanya memantau kepadatan kendaraan, tetapi juga memperhatikan perilaku pengendara di jalan.
Ia menyebut Simpang Tlogosari menjadi salah satu lokasi yang cukup sering ada pelanggaran. Persimpangan Indraprasta dan Jalan Pemuda juga menjadi titik yang mendapat perhatian operator.
“Pelanggar paling banyak di Simpang Tlogosari, lalu di Simpang Indraprasta dan Jalan Pemuda. Intinya di jalan besar yang dekat permukiman, masih ada yang belum menganggap helm itu penting,” ungkapnya.
Menariknya, petugas ATCS tidak memiliki naskah khusus untuk menegur pengendara. Kalimat yang terdengar dari pengeras suara biasanya muncul secara spontan. Operator menyesuaikan teguran dengan kondisi yang terlihat di layar.
“Kata-kata untuk menegur itu pakai bahasa sehari-hari, secara spontanitas saja,” ujar Visna.
Cara tersebut ia pilih agar teguran tidak terdengar kaku. Petugas ingin pengendara memahami kesalahannya tanpa merasa sedang di permalukan.
Visna mengatakan pelanggaran yang ia temukan juga cukup beragam. Selain pengendara tanpa helm, operator sering melihat kendaraan berhenti melewati marka hingga menutup zebra cross.
Belakangan, ia juga cukup sering melihat pengendara yang tidak memakai helm saat mengantar atau menjemput anak sekolah.
“Akhir-akhir ini yang saya lihat pengendara yang tidak memakai helm itu ibu-ibu ketika antar-jemput anak sekolah,” ungkapnya.
Respons pengendara pun berbeda-beda. Ada yang langsung memperbaiki kesalahannya setelah di tegur. Ada pula yang tertawa, cuek, bahkan terlihat kesal.
“Kadang ada yang ketawa, tapi ada juga yang marah kalau melihat dari mimik wajahnya. Intinya kita tidak boleh lelah mengingatkan pengendara untuk tertib,” katanya.
Menggunakan Pendekatan Kejenakaan
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Danang Kurniawan mengatakan pemanfaatan Area Traffic Control System (ATCS) untuk memantau lalu lintas sekaligus memberikan imbauan sebenarnya sudah berjalan cukup lama.
Menurut Danang, pendekatan yang jenaka sengaja petugas gunakan agar pesan keselamatan lebih mudah masyarakat terima.
“Kami berusaha menggugah kesadaran untuk tertib berlalu lintas. Salah satunya dengan pendekatan yang jenaka atau hal-hal yang lucu,” katanya.
Menurutnya, tujuan utama bukan sekadar membuat konten viral. Teguran tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai keamanan dan keselamatan di jalan.
“Prinsipnya adalah membangun kesadaran untuk keamanan, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas,” ujar Danang.
Ia menjelaskan teguran melalui ATCS juga menjadi langkah awal sebelum masuk ke tahap penindakan. Rekaman kamera dapat menjadi data yang digunakan apabila aparat kepolisian perlukan.
“Data ini siap kita serahkan ke Kepolisian jika memang perlu sebagai bentuk penilangan,” jelasnya.
Jangkauan pemantauan ATCS di Kota Semarang terus di perluas. Dari lebih dari 100 traffic light yang kita miliki, sebanyak 52 titik telah terhubung dengan sistem ATCS.
Pemantauan melalui 77 layar monitor di ruang kendali Dinas Perhubungan Kota Semarang. Satu kamera bahkan dapat mengambil gambar dari beberapa sudut untuk memperluas area pengawasan.
Sistem tersebut berkembang cukup pesat. Pada awal penerapannya, ATCS hanya terhubung dengan tiga titik. Kini cakupannya telah mencapai lebih dari 50 titik di berbagai kawasan perkotaan hingga jalur nasional.
Perkembangan tersebut membuat fungsi ruang ATCS tidak hanya berkaitan dengan pengaturan arus kendaraan. Sistem ini juga menjadi salah satu alat pemerintah untuk membangun budaya tertib berlalu lintas.
Danang berharap masyarakat tidak melihat teguran petugas sebagai bentuk mencari-cari kesalahan.
“Harapannya masyarakat lebih aware terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain. ATCS ini sebagai media pengawasan bagi Dinas Perhubungan maupun Satlantas. Intinya mengajak masyarakat tertib berlalu lintas,” pungkasnya. (*)





