Disdukcapil Semarang Sigap Bantu Kepengurusan Administrasi Penduduk yang Hilang Akibat Banjir

Kepala Disdukcapil Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo. /Foto: Ellya.

Semarang, 22/1 (BeritaJateng.tv) – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang membagikan form kepada para korban banjir melalui lurah dan camat. Form tersebut untuk mengurus administrasi kependudukan yang hilang akibat banjir bandang beberapa waktu lalu.

Kepala Disdukcapil Kota Semarang, Yudi Hardianto Wibowo mengatakan, idealnya layanan memang didekatkan kepada masyarakat. Namun, pengalaman sebelumnya saat di Ngaliyan dan Tugu, masyarakat masih sibuk mengurus rumah yang sempat diterjang banjir. Sehingga, pelayanan dinilai kurang maksimal

“Kami memaklumi itu. Kami sudah menyampaikan melalui Camat dan lurah sebuah form untuk diisi masyarakat. Mereka kehilangan apa saja misal akte kelahiran, KK, KTP, dan sebagainya. Semua dokumen kependudukan yang hilang kami ganti,” jelas Yudi, Minggu (22/1/2023).

Dia memastikan, prosedur penggantian dokumen kependudukan yang hilang akibat banjir bandang akan dipermudah. Masyarakat cukup mengisi form yang dibagikan melalui camat dan lurah.

Kemudian, Disdukcapil akan mencari data mereka di sistem informasi administrasj kependudukan.

“Masyarakat biasanya tidak apal NIKnya. KTP hilang, ya sudah pakai nama lengkap dan alamat, nanti kami terbitkan langsung,” paparnya.

Pihaknya tidak memaksa masyarakat menyerahkan form secepatnya. Pasalnya, mereka pasti akan membersihkan rumah terlebihdahulu. Setelah itu, baru mencari dokumen apa saja yang hilang.

“Pengalaman kami di Ngaliyan dan Tugu,  ada yang minggu kedua sudah tuntas. Ada yang dua bulan baru merasa kehilangan,” ucapnya.

Yudi menambahkan, semu dokumen kependudukan akan diuruskan. Akta nikah non muslim juga bisa ditindaklanjuti, sedangkan, akta nikah untuk yang beragama muslim akan disampaijan ke Kementerian Agama.

Di samping membagikan form melalui lurah dan camat, pihaknya juga tetap membuka pelayanan di lokasi bencana.

“Di Dinar Indah ada di masjid. Untuk Rowosari paling ideal memang dikelurahan. Tapi, tanpa kami jemput bola, kelurahan sudah membagikan form,” ujarnya. (Ak/El)

Tinggalkan Balasan