Jateng

Dishub Prediksi 17 Juta Lebih Orang Akan Masuk ke Jateng saat Mudik Lebaran 2026

×

Dishub Prediksi 17 Juta Lebih Orang Akan Masuk ke Jateng saat Mudik Lebaran 2026

Sebarkan artikel ini
One Way Lokal Semarang // arus balik
Arus lalu lintas mudik di jalur tol wilayah Kabupaten Semarang, Sabtu, 29 Maret 2025. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Provinsi Jawa Tengah (Jateng) diperkirakan kembali menjadi magnet utama pemudik pada Lebaran 2026. Berdasarkan survei nasional Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan, sebanyak 38,71 juta orang diproyeksikan pulang kampung ke Jateng tahun ini.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, membenarkan angka tersebut merupakan hasil survei rutin Kementerian Perhubungan.

“Memang tadi yang disampaikan jumlah sekitar 30 juta lebih itu dari BKT. Setiap tahun Kementerian Perhubungan selalu mengadakan survei-survei itu,” ujar Miko saat beritajateng.tv konfirmasi via WhatsApp, Jumat, 27 Februari 2026.

BACA JUGA: Persiapan Lebaran, Ini Tren Gaya Rambut Pria dan Wanita 2026

Selain data nasional, Dinas Perhubungan Jawa Tengah juga membuat prediksi internal. Miko menyebut, sekitar 17,7 juta orang perkiraannya akan masuk dan melintas wilayah Jawa Tengah selama periode mudik.

“Kalau angka prediksi yang kami buat adalah sekitar 17,7 juta warga yang akan masuk dan melintas Jawa Tengah. Ini menjadi perhatian bagi kita,” katanya.

Menurut Miko, angka tersebut meningkat daripada periode mudik tahun 2025, sehingga perlu langkah antisipatif yang lebih matang.

Posko Lebaran Beroperasi H-8 hingga H+7

Mengacu pada prediksi tersebut, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan Posko Idulfitri yang akan beroperasi lebih lama. Yakni mulai H-8 atau 13 Maret hingga H+7 atau 30 Maret 2026.

Langkah ini untuk mengantisipasi puncak arus mudik yang perkiraannya terjadi pada 14 dan 17 Maret 2026. Miko menegaskan, Jawa Tengah memang menjadi tujuan utama pemudik secara nasional.

“Yang masuk Jawa Tengah itu jumlahnya memang cukup besar. Jadi Jawa Tengah memang menjadi tujuan secara nasional, tujuan utama masyarakat mudik. Lebih dari 40 persen itu akan masuk ke Jawa Tengah,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kepadatan dan potensi gangguan lalu lintas, Pemprov Jawa Tengah memasang CCTV yang beroperasi 24 jam dan dapat masyarakat akses secara daring.

“Titik-titik ini adalah titik-titik yang mungkin nanti akan menjadi daerah-daerah krusial,” kata Miko.

Sejumlah titik yang terpantau antara lain kawasan wisata Bandungan, Bayeman–Purbalingga, Simpang Ketanggungan, Simpang Lingkar Bumiayu, Simpang Wangon, Simpang Buntu, Pasar Gombong, Simpang Dieng, Simpang Bawen, hingga Exit Tol Prambanan.

Selain memantau lalu lintas, perangkat pengindera jarak jauh juga di fungsikan untuk mengawasi kondisi cuaca. Hal ini mengingat curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Tengah masih tergolong tinggi.

Dinas Perhubungan juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) guna memastikan kemantapan jalan provinsi tetap terjaga menjelang arus mudik, termasuk perbaikan jalan yang terdampak hujan.

Ramp Check Ketat, Kendaraan Tak Layak Dilarang Beroperasi

Selain infrastruktur, Dinas Perhubungan Jawa Tengah menyiapkan pengawasan ketat terhadap kendaraan umum melalui ramp check atau inspeksi keselamatan.

Pemberlakuan pemeriksaan untuk bus umum, armada mudik gratis Pemprov Jawa Tengah, Terminal Tipe B yang provinsi kelola, hingga Terminal Tipe A yang pemerintah pusat kelola.

“Pemberlakuan ramp check H-1 sebelum keberangkatan. Misalnya berangkat 28 Maret, pengecekan 27 Maret. Jika tidak laik, pasti tidak jalan,” tegas Miko.

Lebih jauh, dalam rilis Kementerian Perhubungan, kata Miko, pergerakan terbesar pemudik berasal dari Jawa Barat (30,97 juta orang), tersusul DKI Jakarta (19,93 juta orang), dan Jawa Timur (17,12 juta orang).

Dari sisi tujuan, arus terbesar mengarah ke Jawa Tengah (38,71 juta orang), kemudian Jawa Timur (27,29 juta orang), dan Jawa Barat (25,09 juta orang).

BACA JUGA: Berikut Syarat Pendaftaran Mudik Gratis Armada Kereta Api 2026, Siap Pulang Kampung?

Sementara itu, moda transportasi yang paling dominan masyarakat gunakan adalah mobil pribadi sebanyak 76,24 juta orang, sepeda motor 24,08 juta orang, dan bus 23,34 juta orang. Pengguna mobil mayoritas melalui jalan tol (50,63 juta orang), sedangkan pengguna sepeda motor cenderung memilih jalur alternatif nonutama (8,65 juta orang). Miko mengimbau pemudik untuk mempersiapkan perjalanan dengan matang.

“Bagaimanapun juga kita pemerintah Jateng menginginkan bahwa para pemudik itu adalah tamu-tamu kita yang harus kita sambut dengan kondisi yang terbaik. Kami juga berharap selain kami siapkan, masyarakat juga harus siap,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp