SEMARANG, beritajateng.tv – Normalisasi Sungai Plumbon Semarang yang menjadi kewenangan BBWS Pemali Juana masih terkendala pembebasan lahan dan kekurangan anggaran.
Proyek normalisasi ini digadang mampu mengurangi risiko banjir dan jebolnya tanggul di wilayah Barat Kota Semarang.
Kepala Bidang Pengembangan Jaringan Sumber Air (PJSA) BBWS Pemali Juana, Lalu Ardian Bagus Nugroho, menjelaskan bahwa saat ini proses pembebasan lahan telah memasuki tahap pertama. Dari total sekitar 320 bidang yang terdampak, sekitar 90 bidang sudah BBWS bayarkan.
“Total ada sekitar 320 bidang yang harus ada pembebasan lahan. Tahun lalu kami sudah membayar kurang lebih 90 bidang. Sisanya kami targetkan bisa selesai tahun ini, sehingga pada 2026 lahan sudah clear and clean dan fisik bisa terlaksana,” ujarnya.
Ia menyebutkan, pembebasan lahan mencakup kawasan dari Jalan Pantura hingga ke hilir Sungai Plumbon dengan panjang hampir 10 kilometer. Identifikasi tanah dan penetapan lokasi sudah rampung, namun kendala utama terletak pada keterbatasan anggaran.
BACA JUGA: EWS Sungai Plumbon Rusak, BPBD Semarang Pastikan Pemasangan Baru Tahun Ini
Pada 2025, proyek ini telah mendapat alokasi Rp71 miliar dari APBN murni. Namun, masih terdapat kekurangan anggaran sekitar Rp132 miliar untuk menuntaskan pembebasan lahan.
“Kami berharap ada sinergi antara pemerintah pusat dan Pemkot Semarang. Ibu Wali Kota sudah bersurat ke pusat agar kekurangan anggaran Rp132 miliar bisa di usulkan melalui APBN. Sekarang kami menunggu keputusan final dari pusat,” jelasnya.
Setelah lahan dinyatakan bersih, BBWS akan melanjutkan ke tahap konstruksi fisik sesuai desain yang telah di susun.
Normalisasi rencananya memiliki lebar sekitar 30 hingga 40 meter dengan penguatan tanggul menggunakan concrete sheet pile di sejumlah titik. Di beberapa lokasi lain, desain akan menyesuaikan kondisi lapangan.
Ardian menambahkan, sembari menunggu proses administratif, pihaknya tetap melakukan penanganan darurat di lapangan.
“Setiap ada tanggul kritis atau jebol saat hujan deras, kami langsung turun dengan penanganan sementara seperti karung pasir, bambu, dan perkuatan darurat lainnya,” katanya.





