SAMARINDA, beritajateng.tv – Kasus menghebohkan terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur, pada Selasa (7/6/2023) lalu. Seorang anak bernama N, balita positif narkoba setelah meminum air putih di rumah tetangganya.
Kabar balita positif narkoba ini berawal ketika N dan ibunya berkunjung ke rumah tetangganya di Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.
“Kronologi pada saat ibu korban datang bertamu ke rumah pelaku bersama anaknya, karena minta tolong untuk dicabut ubannya,” ujar Kombes Ary Fadli, Kapolresta Samarinda, Senin (12/6/2023).
Saat berada di rumah tetangganya, tiba-tiba N merasa haus. Kemudian, pelaku memberikan air kepada N, yang tanpa ia sadari air tersebut sebenarnya adalah bekas dari botol bong atau alat penghisap sabu.
BACA JUGA: Jari Balita 3 Tahun di Blora Masuk di Lubang Kursi Besi, BPBD Sigap Tangani
Efek Balita Positif Narkoba
Setelah meminum air yang pelaku berikan, N mulai menunjukkan perilaku yang aneh. Sang ibu mengatakan bahwa balita tersebut tidak bisa tidur selama dua hari. Kejadian ini membuat ibu N memanggil Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRCA).
“Setelah itu 2 hari kemudian anak tersebut berperilaku aneh dan tidak bisa tidur yang mana ibunya bertanya kepada pelaku air apa yang diminumkan,” tuturnya.
Karena tidak mendapatkan penjelasan yang memadai, ibu korban melaporkan kejadian ini kepada TRCA Kota Samarinda. Setelah pemeriksaan di rumah sakit, ternyata hasil tes urin anak tersebut menunjukkan adanya amphetamin.
Kombes Ary Fadli menegaskan, lantaran kejadian ini, Polresta Samarinda menetapkan TR (50) sebagai tersangka.
Kabar mengenai balita positif narkoba di Samarinda langsung menjadi perbincangan di media sosial dan di kalangan warga sekitar. Akibatnya, balita malang tersebut mengalami kesulitan dalam makan dan tidur selama dua hari.
Saat ini, balita tersebut sedang menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit. Berdasarkan informasi yang beredar, pada Minggu (11/6/2023), kondisi balita tersebut mulai membaik.
Balita positif narkoba tersebut sudah mau makan dengan normal, meskipun masih harus dipantau kondisinya selama beberapa hari ke depan. Kejadian ini mengingatkan kita sebagai orang tua untuk lebih berhati-hati dan waspada dalam mengawasi anak-anak kita. (*)





