SEMARANG, beritajateng.tv – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Brigjen Pol. Edi Swasono mengatakan, sekitar 195 ribu orang di Jawa Tengah terpapar narkoba.
“Dari persentase tersebut mayoritas adalah generasi muda. Ini usia produktif semuanya,” kata dia di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Kamis petang, 1 Oktober 2026 petang.
Lingkungan kampus, kata Edi Swasono, ikut menjadi sasaran perhatian BNN Provinsi Jawa Tengah. Ini menyusul tingginya jumlah masyarakat yang dia sebut terpapar narkoba di wilayah itu.
Dia bilang, mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan intervensi pencegahan. Terlebih, mahasiswa berada dalam lingkungan pergaulan yang luas dan berada pada fase usia produktif.
BACA JUGA: Kejar Zero Prevalence 2045, BNN Jateng Bidik Calon Psikolog Tangani Pecandu Narkoba
Edi Swasono berucap, angka tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan narkoba di Jawa Tengah tidak bisa hanya ditangani oleh BNN saja.
Upaya menekan prevalensi narkoba, kata dia, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.
BNN menargetkan angka prevalensi tersebut terus ditekan hingga menuju zero prevalence pada 2045. Intervensi terhadap kelompok yang sudah masuk dalam sasaran menjadi salah satu bagian dari upaya mencapai target tersebut.
“Kerja-kerja ini target kita yang 195 ribu [orang] ini akan kita intervensi melibatkan semua pihak sehingga targeting kita di 2045 nanti insyaallah bisa zero prevalensi,” ujarnya.
Jateng 5 Besar Kerawanan Nasional
Edi Swasono mengatakan berdasarkan indeks pengukuran kerawanan narkoba secara nasional, Jawa Tengah berada dalam kelompok lima besar.
Dia mengatakan, angka pengungkapan kasus tidak bisa langsung bisa gunakan untuk menyimpulkan suatu wilayah paling rawan narkoba.
Pasalnya, kata Edi Swasono, karakteristik kejahatan narkoba berbeda dengan sejumlah tindak pidana lainnya. Aparat harus aktif mencari dan mengungkap jaringan narkoba, bukan hanya menunggu laporan masyarakat.
“Spesifikasi kejahatan narkoba itu, penyidik harus aktif mencari, bukan menemukan. Itu bedanya,” ucap dia.
BACA JUGA: Polisi Blora Bongkar 5 Kasus Narkoba dalam 2 Bulan, Ringkus 8 Tersangka dan Sita 66,72 Gram Sabu
Karena itu, kata Edi, meningkatnya jumlah kasus narkoba yang aparat ungkap tidak serta-merta menunjukkan kondisi suatu daerah semakin berbahaya.
Sebaliknya, angka pengungkapan juga dapat menggambarkan tingkat aktivitas aparat dalam mencari, menyelidiki dan menangkap pelaku tindak pidana narkoba.
BACA JUGA: Kisah Relawan Desa Bersinar Kenteng Bandungan, Berhasil Lepas Status Zona Merah Narkoba
“Indikatornya semakin banyak pengungkapan kasus bukan berarti di situ memang daerah bahaya, tapi itu menunjukkan tingkat keaktifan penyidik untuk menangkap dan mencari,” katanya.
Edi Swasono bilang, tren pengungkapan perkara narkoba di Jawa Tengah memang mengalami fluktuasi. Dalam perbandingan dengan Jawa Timur dan Jawa Barat, posisi Jawa Tengah berada di urutan ketiga dalam kalkulasi kerawanan yang disampaikan BNN Jateng.
Laboratorium Narkoba
Edi Swasono mengatakan, keberadaan clandestine laboratory atau laboratorium produksi narkoba sebagai salah satu faktor yang membedakan tingkat ancaman antar wilayah.
Jawa Timur dan Jawa Barat, kata dia, telah adanya temuan laboratorium untuk memproduksi narkoba. Sementara di Jawa Tengah, BNN menyebut belum menemukan kondisi serupa meski jaringan narkoba telah ada.
BACA JUGA: Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo
“Kalau di Jawa Timur dan Jawa Barat itu sudah ada clandestine lab. Itu produk-produk narkoba ilegal, dia sudah punya pabrik, laboratorium untuk memproduksi ilegal narkoba,” ujarnya.
“Alhamdulillah di Jawa Tengah ini belum, tapi kalau jaringan narkoba memang sudah ada,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin
Keterangan foto: Kepala Badan Narkotoika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah Brigjen Pol. Edi Swasono saat ditemui di Unika, Kamis, 1 Oktober 2026 petang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)





