“Harga bahan baku juga naik. Inflasi juga kita lihat ini. Meskipun pemerintah bilang masih stabil-stabil saja ya. Tapi kita sudah mulai merasakan ya. Mau tidak mau harga produk plastik ini akan naik, karena (bahan baku) sudah naik 100 persen. Masalahnya, kalau kita sudah ikat terikat kontrak ya untuk produksi bahan-bahan plastik ya. Ya, terpaksa menderita rugi,” keluhnya.
Selain itu, sektor tekstil dan garmen juga terdampak karena pasar ekspor ke Timur Tengah dan Amerika Serikat mengalami gangguan.
“Masalahnya ya tekstil kita (ekspor) ke Timur Tengah ya, itu terganggu. Ke Amerika juga soal tarif, belum ada kepastian betul. Jadi ini mengganggu semua ya. Pengusaha garmen yang mau ekspansi juga mikir dalam keadaan begini, bahan baku kita naik, tapi tidak bisa produksi semua karena pasar seperti ini. Jadi kita sekarang ini cukup sulitlah ya,” ungkapnya.
Ia juga mendorong pengusaha untuk mulai mencari pasar alternatif di tengah ketidakpastian global.
“Kita harapkan ya, kita bisa cari pasar-pasar di luar daripada itu ya. Di Amerika Latin misalnya ya. Selain itu kalau di Asia dengan Cina, kita masih tetap ada hubungan dagang baik,” lanjutnya.
BACA JUGA: UMK 2024 Kota Semarang dan Kabupaten Jepara Tak Sesuai Aturan, Apindo Jateng Siap Layangkan Gugatan
Di sisi lain, pelaku usaha saat ini masih berupaya mempertahankan tenaga kerja yang ada, meski belum berani melakukan ekspansi.
“Semua karyawan kita yang tetap bekerja dipertahan. Untuk perluasan ya, sudah barang-barang tentu masih pikir-pikir. Dengan kondisi sekarang ini tidak (ada rekrutmen),” tuturnya. (*)
Editor: Farah Nazila





