“Kalau sekarang justru Jepang masih banyak yang tanya. Kelihatannya faktor desain. Orang lihat desainnya bagus jadi tetap beli walaupun timnya sudah gagal,” katanya.
Desain Jersey Jadi Daya Tarik Baru
Roby menjelaskan, Piala Dunia memiliki karakter pasar yang berbeda dengan kompetisi liga. Banyak pembeli yang sebenarnya bukan penggemar sepak bola, tetapi tertarik membeli jersey karena desainnya.
“Kalau klub kan fanatik. Mau desainnya bagus atau jelek tetap masyarakat beli. Kalau Piala Dunia lebih objektif. Orang yang enggak terlalu suka bola pun bisa beli karena lihat desainnya menarik,” jelasnya.
Selain menawarkan jersey dari berbagai negara peserta Piala Dunia, Pusat Jersey Semarang juga menyediakan dua jenis produk yang menyasar segmen pembeli berbeda, yakni versi suporter (supporter version) dan versi pemain (player issue).
Roby Susetyo Wibowo menjelaskan, kedua jenis jersey tersebut memiliki perbedaan pada material, detail, serta harga. Versi suporter menjadi pilihan yang paling banyak masyarakat beli karena lebih terjangkau, sedangkan versi pemain memiliki spesifikasi yang menyerupai jersey yang atlet kenakan di lapangan.
“Ada dua jenis, satu replika atau yang biasa disebut versi supporter, kemudian ada yang player issue, yaitu versi pemain. Kadang juga ada yang long sleeve, tapi tidak semua jersey tersedia lengan panjang,” jelas Roby.
Harga Jersey Bisa Naik hingga 10 Kali Lipat
Bisnis jersey Piala Dunia juga memiliki dinamika harga yang sangat bergantung pada perjalanan tim di turnamen. Semakin jauh sebuah negara melangkah, semakin tinggi harga jersey mereka.
Roby mengatakan kenaikan harga bukan semata keputusan pedagang, melainkan mengikuti mekanisme permintaan dan ketersediaan barang.
“Baru menang satu pertandingan saja harga sudah mulai naik. Lolos fase berikutnya naik lagi. Kalau sampai final bisa tiga sampai empat kali lipat, bahkan pengalaman sebelumnya pernah sampai 10 kali lipat dari harga awal,” ungkapnya.





